Berita :: GLOBALPLANET.news

Pemaparan oleh BPPIKHL wilayah Sumatera mengenai Karhutla Provinsi Sumsel, Kamis (8/11/2018). (Foto: Rachmat Kurniawan)

08 November 2018 16:06:34 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2018 telah menghabiskan anggaran Rp1 triliun yang bersumber dari APBN. Hal ini berdasarkan data dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) Wilayah Sumatera.

"Tahun ini (2018) karena ada Asian Games pemadaman karhutla di Sumsel telah menghabiskan APBN sebanyak Satu Triliun,” kata Kabag TU BPPIKHL wilayah Sumatera Kurniawati Negara, dalam Publikasi Pencapaian Pemadaman Karhutla oleh BPPIKHL di Hotel Peninsula, Kamis (8/11/2018).

Menurutnya di tahun 2019 kemungkinan jumlah anggaran sama saja dengan tahun sebelumnya. “Tapi kita lebih menitikberatkan kepada pencegahan daripada pengendalian dengan kegiatan patroli terpadu dan patroli mandiri di tiap daeah operasi (Daops)," ujarnya.

Dijelaskanya, sepanjang tahun 2018, masalah kebakaran hutan dan lahan selalu melanda beberapa wilayah Sumsel yang didominasi lahan gambut karena mudah terbakar oleh cuaca panas. BPPIKHL Wilayah Sumatera bersama tim Manggala Agni yang tersebar di 4 Daerah Sumsel operasinya berhasil menekan jumlah kebakaran dengan berbagai upaya.

Berdasarkan data yang dihimpun BPPIKHL Wilayah Sumatera, total luas karhutla s/d September 2018 sebesar 7.320,5 hektar dengan luas terbesar si Provinsi Riau (35,6%) dan terkecil di Sumatera Barat (0,23%). Berdasarkan jenis tanah yang paling sering terbakar didominasi lahan gambut.

“Untuk wilayah Sumsel hingga 13 September 2018 sebanyak 824 hotspot lahan se Sumsel jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya yaitu 1012 hotspot lahan yang paling sering terjadi kebakaran yaitu wilayah Kabupaten OKI dengan 213 titik hotspot,” rincinya.

Untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi pada tahun 2019, pihaknya bersama satgas terkait lebih menitikberatkan pencegahan karhutla.

Daerah Operasi di wilayah Sumsel meliputi Muba, Banyuasin, OKI, dan Lahat. Dengan jumlah anggaran cukup banyak, ia akan memprioritaskan kebutuhan fasilitas ditiap daops. Lahan gambut mudah terbakar karena tanahnya sebagian mengandung zat organik seperti oksigen sehingga mudah terpancing oleh panas terutama saat kemarau kering.

"Untuk November hingga Desember kita lebih banyak prepare untuk tahun depan atau pemulihan. Sejak Februari setelah SK Gubernur keluar untuk memadamkan karhutla kita terus beroperasi demi mensukseskan Asian Games," bebernya.

Ditempat yang sama, Kepala Daerah Operasi Manggala Agni wilayah Banyuasin Adi Firmansyah didampingi Kepala Daops OKI Tri Prayogi menjelaskan, pembinaan terhadap masyarakat peduli api (MPA) merupakan ujung tombak pencegahan Karhutla di lapangan.

"Tantangan kami meliputi perubahan iklim yang ektsrem hingga masyarakat yang nakal membakar lahan. Karena itu kami Manggala Agni di tiap Daerah operasi masyarakat kami beri sosialisasi bahayanya, pencegahan bakal kita fasilitasi. Yang pasti kami tetap komitmen untuk membantu pemerintah yang sifatnya pencegahan," pungkasnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 54