Berita :: GLOBALPLANET.news

Suasana sidang lanjutan praperadilan di PN Sekayu. Sidang sendiri diajukan dua pemohon yakni Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto yang merupakan tersangka dalam kasus pencurian dengan pemberatan. (Foto: Amarullah Diansyah)

21 Desember 2018 13:29:00 WIB

MUBA, GLOBALPLANET - Sidang Praperadilan yang diajukan pemohon Salasum Tamamu dan Sugeng Purwanto terhadap termohon Polsek Sungai Lilin Polres Muba kembali digelar di Pengadilan Negeri Sekayu, Jumat (21/12/2018).

Sidang keempat yang dipimpin oleh Hakim Andi Wiliam Permata SH ini beragendakan pembacaan duplik dari pihak termohon, pemeriksaan bukti tertulis dan mendengarkan keterangan saksi ahli yakni Dr Marsudi Sutoyo yang diajukan pihak pemohon.

Saat memberikan keterangan di depan hakim, dosen dari Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang, mengatakan, proses penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian harus sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.

"Proses penegakan hukum itu bagaimana, harus sesuai dengan Perkap mltentang menajemen penyidikan hukum pidana," ujar dia.

Jika lama prosesnya ada penyimpangan, seperti pemaksaan saat pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), maka proses tersebut dinilai tidak benar. "Jika proses BAP ada paksaan itu salah, berupa indtimidasi atau kekerasan tidak dibenarkan," kata dia.

Terkait penembakan terhadap pelaku kejahatan, sambung dia, boleh dilakukan jika mengancam keselamatan petugas. "Di luar Perkap itu adalah salah prosedur, itu aturan yang harus dijalani pihak kepolisian," kata dia.

Sementara, Kuasa Hukum kedua termohon, Fahmi SH mengatakan, pihaknya yakin Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto tidak bersalah dalam kasus tersebut. Dimana penangkapan keduanya terkesan direkayasa dan dipaksakan.

"Kita punya bukti kuat mereka tidak bersalah, salah satunya BAP yang acak-acakan. Mereka dipaksa memberikan keterangan, hasilnya di BAP tidak ada yang sinkron," jelas dia.

Selain itu, sambung Fahmi, proses penangkapan terhadap keduanya pun dinilai janggal. Sebab, Salasun ditangkap saat sedang berada dalam pengajian dan diberikan tembakan pada kaki sebanyak tiga kali, salah satunya ditelapak kaki

"Salasun ini saat itu sedang mengikuti pengajian, tiba-tiba ada tetangga yang menelpon memberitahukan bahwa hendak ditangkap. Karena merasa tidak bersalah Salasun tetap meneruskan pengajian. Namun tiba-tiba anggota Polsek Sungai Lilin menjemput dan membawa Salasun, saat dibawa sedang memakai sarung dan dinaikkan ke dalam mobil," terang dia.

Usai diamankan pada malam hari, sambung Fahmi, pagi harinya Salasun dibawa kembali kerumah untuk mengambil sejumlah barang bukti yang dalam kenyataannya tidak ada, namun tetap dipaksakan. Dimana salah satu barang bukti yang diambil adalah pakaian sang istri yang sebenarnya dibeli pada tahun lalu, bukan dibeli usai melakukan kejahatan.

"Setelah itu, dia dibawa ke Polsek Sungai Lilin. Nah, dalam perjalanan itulah Salasun ditembak sebanyak tiga kali. Salah satunya ditembak ditelapak kaki dan itu secara logika tidak mungkin ditembak sambil berlari dan kena telapak kaki. Salasun mengaku ditembak di daerah perkebunan Sungai Lilin," terang dia.

Sedangkan untuk Sugeng Purwanto, sambung Fahmi, dikatakan pihak kepolisian menyerahkan diri ke Polsek Sungai Lilin. Namun, dalam kenyataannya, Sugeng Purwanto ditangkap saat sedang tidur sore dirumah.

"Sugeng itu tidak menyerahkan diri, tapi ditangkap dirumah. Mereka berdua dipaksa untuk mengaku," tandas dia.

Sekedar mengingatkan, Termohon Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto merupakan dua dari lima tersangka yang ditangkap jajaran Polsek Sungai Lilin, lantaran diduga terlibat dalam kasus pencurian dengan pemberatan di Desa Mulyo Rejo Kecamatan Sungai Lilin, pada Minggu (28/10/2018) lalu.

Reporter : Amarullah Diansyah Editor : M.Rohali 595