Berita :: GLOBALPLANET.news

Para saksi Raudhatul Jannah (Istri Sugeng Purwanto), Poniati (istri Salasun Tamamu), Joko Suripto (Kakak Sugeng Purwanto), dan Sugiyo (tetangga Sugeng dan Salasun) saat diambil sumpah dalan sidang praperadilan. (Foto: Amarullah Diansyah)

26 Desember 2018 17:23:00 WIB

MUBA, GLOBALPLANET - Sidang praperadilan kasus dugaan perampokan yang diajukan termohon Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto terhadap Polsek Sungai Lilin kembali berlanjut di Pengadilan Negeri Sekayu, Rabu (26/12/2018).

Kali ini, pihak pemohon menghadirkan empat saksi yakni Raudhatul Jannah (Istri Sugeng Purwanto), Poniati (istri Salasun Tamamu), Joko Suripto (Kakak Sugeng Purwanto), dan Sugiyo (tetangga Sugeng dan Salasun).

Sidang yang dipimpin hakim tunggal Andi Wiliam Permata berjalan dengan aman dan tenang, meskipun sedikit diselimuti rasa haru lantaran salah satu saksi yakni Poniati menangis memohon kepada hakim memberikan keadilan.

Tangis Poniati sendiri pecah saat dipenghujung kesaksian, dimana saat itu hakim Andi menanyakan kepada saksi Poniati terkait apakah ada hal yang masih ingin disampaikan dalam sidang praperadilan tersebut.

"Saya mohon kepada hakim, suami saya tidak salah. Saya yakin seyakin yakinnya pak. Demi Allah suami saya tidak bersalah," ujar Poniati sembari menangis dipenghujung kesaksian di hadapan hakim.

Sebelumnya, saksi Poniati sendiri menerangkan keberadaan sang suami Salasun saat peristiwa perampokan terjadi dan juga menjelaskan proses penangkapan yang dilakukan oleh Polsek Sungai Lilin.

"Saat malam itu (peristiwa perampokan terjadi, Minggu (28/10/2018), suami saya ada di rumah, pukul 22.30 WIB saya tidur, terbangun pukul 02.30 WIB, saya bangun dan lihat suami saya sedang tidur," ujar dia.

Adanya peristiwa perampokan sambung Poniati, diketahuinya dari cerita para tetangga. "Saya tahu minggu siang ada perampokan. Saya tahu dari para tetangga soal perampokan," kata dia.

Setelah perampokan terjadi, sambung dia, sang suami pun tidak menunjukkan gerak gerik mencurigakan dan masih beraktifitas seperti biasa lantaran memang tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan.

"Selang beberapa hari ada polisi datang ke rumah dan menemui suami saya. Hanya bercerita biasa, karena suami saya tidak bersalah jadi tetap beraktifitas seperti biasa," terang dia.

Barulah, pada Kamis (16/11/2018), sambung dia, ada anggota Polsek Sungai Lilin kembali datang kerumahnya menanyakan keberadaan sang suami. Oleh Poniati, dijawab bahwa sang suami tidak berada di rumah, melainkan ditempat Pak Sugiyo sedang mengikuti Istighosah.

"Saya beritahu suami saya kalau ada polisi yang mencari, oleh suami saya diminta datang ke tempat acara. Saya beritahu rumah Pak Sugiyo, setelah itu sampai pagi suami saya tidak pulang," terang dia.

Selanjutnya, kata Poniati, pagi Jumat (16/11/2018), suaminya kembali kerumah bersama dengan anggota polisi. Tujuannya yakni mencari barang bukti, dimana saat itu dirinya melihat sang suami sudah babak belur namun masih dapat berjalan seperti biasa.

"Saya disuruh ke Polsek, katanya mau di BAP, disana saya bertemu suami saya turun dari mobil dengan keadaan kaki sudah luka-luka (ditembak) dan jalan ngesot (merayap)," ucap dia.

Hal senada juga disampaikan saksi Raudhatul Jannah, istri Sugeng Purwanto ini mengatakan, saat melam kejadian (perampokan), sang suami berada di rumah. Hal itu dikarenakan hingga pagi hari dirinya melihat sang suami tengah tertidur.

"Malam kejadian suami saya ada di rumah, dari pukul 22.00 WIB sampai pagi hari, tidur bersama saya, di rumah ada bapak, ibu, anak dan saya, suami saya tidur di kamar dengan saya," terang dia.

Saat anggota Polsek Sungai Lilin datang, kata dia, suaminya tengah tidur sore hari yakni sekitar pukul 16.00 WIB. Kedatangan polisi itu bertujuan untuk meminta keterangan, sehingga dibawa ke Polsek Sungai Lilin.

"Setelah pergi, hingga malam hari suami saya belum pulang. Lalu saya telepon, suami saya cerita telah ditetapkan sebagai tersangka. Suami dijemput di rumah dan tidak pernah menyerahkan diri ke Polsek," terang dia.

Diceritakan Raudhatul, suaminya dipaksa untuk mengaku, karena tidak tahan dengan ancaman dan tidak tahan melihat temannya yakni Narto (diduga) disiksa oleh pihak kepolisian.

"Suami saya terpaksa mengaku, karena tidak kuat melihat temannya (Narto) disiksa. Kalau tidak mengaku kepalanya (Narto) akan dipaku, Saya lihat Narto kepalanya luka," beber dia.

Terkait surat penangkapan, Raudhatul mengaku baru menerima oleh saudaranya pada Minggu (18/11/2018), atau satu hari setelah Sungeng Purwanto ditahan. "Saya tahu soal surat penangkapan dari kakak saya yang menerimanya, saya tahu hari Minggu. Kalau soal uang saya tidak tahu menahu," tandas dia.

Sekedar mengingatkan, Termohon Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto merupakan dua dari lima tersangka yang ditangkap jajaran Polsek Sungai Lilin, lantaran diduga terlibat dalam kasus pencurian dengan pemberatan di Desa Mulyo Rejo Kecamatan Sungai Lilin, pada Minggu (28/10/2018) lalu.

Reporter : Amarullah Diansyah Editor : M.Rohali 379