Berita :: GLOBALPLANET.news

GAPKI

13 Januari 2019 07:40:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Pemerintah diminta harus segera mengambil langkah strategis guna menangkal kampanye hitam (black campaign) sawit. Sebab, jika kampanye hitam dibiarkan terus menerus maka dikhawatirkan dapat mempengaruhi harga di tingkat petani. Hal ini disampaikan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Ketua Gapki Sumatera Selatan Harry Hartanto mengatakan, semua pihak harus bekerja sama dan bersinergi dalam melawan kampanye hitam negara-negara Uni Eropa terhadap produk ekspor utama Indonesia, minyak kelapa sawit (CPO).

Harry mengatakan tujuan dari kampanye ini tak lain agar produk sawit Indonesia ini tidak masuk ke negara-negara kawasan Eropa. Penyebabnya, banyak negara ingin menjual jenis minyak nabati yang mereka produksi sendiri seperti minyak biji matahari dan minyak kedelai.

"Jika ini berhasil, maka akan terjadi pengurangan serapan di pasar internasional, dan ini bakal berdampak ke petani kita," kata Harry di Palembang, Jumat (11/01/2019).

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO ke Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,5 juta ton, sedangkan kebutuhan CPO Eropa mencapai 6,3 juta ton. Adapun Malaysia di tempat kedua dengan volume ekspor mencapai 1,5 juta ton.

Menurut Harry, jika pengurangan serapan itu terjadi, maka dapat mengancam ketahanan ekonomi nasional karena perkebunan sawit Indonesia sebagian besar dimiliki rakyat. Selain itu ekspor minyak sawit ini terbukti telah memberikan sumbangan terbesar pada devisa negara. Oleh karena itu, Harry mengajak semua pihak untuk melawan kampanye hitam negara-negara Eropa yang dilakukan melalui Lembaga Sosial Masyarakat (NGO).

"Pemerintah harus mengambil langkah strategis terkait persoalan ini, tidak boleh diam saja karena kampanye hitam ini terus saja berlanjut. Padahal, ini murni perang dagang, tidak ada hubungannya dengan produk sawit karena berdasarkan penelitian justru minyak sawit juga baik untuk kesehatan," kata dia.

Potensi Indonesia dalam menghasilkan minyak nabati juga dinilai menjadi ancaman sendiri negara-negara di Eropa karena mampu menjadi penyuplai utama kebutuhan.

Eropa tidak bisa berbuat banyak karena perkebunan sawit jauh memiliki keungulan dibandingkan biji matahari dan kedelai, salah satunya dari sisi produktivitas. Dia menuturkan, dalam satu hektare perkebunan sawit bisa menghasilkan 8 ton minyak sawit per tahun, sementara untuk biji matahari hanya 0,3 ton per tahun.

Oleh karena itu, tak heran jika dimunculkan isu berbau kampanye hitam seperti produk yang tidak aman untuk kesehatan, merusak lingkungan, hingga pengeksploitasian tenaga kerja anak-anak.

"Ini semua tidak benar, coba bayangkan jika menanam biji matahari, artinya lebih banyak lagi hutan yang mereka babat. Soal standarisasi, Indonesia juga sudah menerapkan sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang sudah diakui secara internasional," ujar dia.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 124