Berita :: GLOBALPLANET.news

Ilustrasi: Ist

13 Januari 2019 08:15:00 WIB

JAKARTA, GLOBALPLANET - Proporsi kebun sawit rakyat dari total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 40 persen. Keterlibatan petani rakyat dalam pengusahaan kebun kelapa sawit didorong oleh keberhasilan berbagai pola kemitraan sejak tahun 1980-an.

Pola – pola kemitraan tersebut yaitu;

Pertama, Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Khusus dan PIR Lokal yang dimulai dengan keberhasilan sehingga mendorong pemerintah melanjutkan dan memperluas pola PIR dengan pendanaan dalam negeri (APBN) yakni, PIR khusus dan PIR lokal pada 12 provinsi di Indonesia pada tahun 1980.

Pola kemitraan ini menghasilkan perkembangan sekitar 231.535 ha perkebunan kelapa sawit baru yakni kebun inti (67.754 ha) dan kebun plasma (163.781 ha). Pola PIR ini menjadi titik awal keterlibatan petani rakyat dalam mengusahakan kebun dimana sebelum tahun 1980 pelaku bisnis sawit hanya oleh korporasi yakni perusahaan negara dan swasta (Badrun, 2010).

Kedua, PIR Transmigrasi yang penerapannya dikaitkan dengan pengembangan ekonomi daerah melalui program transmigrasi sejak tahun 1986. Pola kemitraan ini dilaksanakan pada 11 provinsi dan berhasil menumbuh kembangkan perkebunan kelapa sawit baru sekitar 566 ribu hektar dimana 70% kebun plasma dan 30% kebun inti.

Ketiga, PIR KKPA (Kredit Koperasi Primer untuk Para Anggotanya) yang merupakan pengembangan PIR Lokal baik dari segi pembiayaan maupun dari segi kelembagaan yang dikaitkan dengan pengembangan koperasi.

Kemitraan KKPA memiliki perbedaan dengan pola PIR sebelumnya dimana pengeloaan kebun plasma KKPA sebagian besar menjadi tanggung jawab inti. Sedangkan pada pola kemitraan PIR lebih banyak ditentukan oleh pentani sendiri.

Keempat, PIR Revitalisasi Perkebunan yang dilaksanakan pada tahun 2006 dimana pemerintah memberikan fasilitas kredit (subsidi bunga kredit) pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan (Permenkeu No: 117/PMK.06/2006) untuk rakyat (PASPI 2016).

Keberhasilan kemitraan dengan berbagai variasi pelaksanaannya, berhasil membawa perubahan revolusioner dalam agribisnis minyak sawit di Indonesia khususnya perkebunan kelapa sawit (Sipayung, 2012; PASPI, 2014; Sipayung dan Purba, 2015).

Namun keberhasilan perkembangan perkebunan kelapa sawit ini belum dibarengi dengan tingkat produktivitas yang baik pada kebun sawit rakyat. Minimnya pengetahuan teknik budidaya, penggunaan bibit yang salah dan rendahnya kualitas SDM menyebabkan produktivitas kebun rakyat ini jauh lebih rendah dari potensi produktivitas kelapa sawit.

Produktivitas CPO kebun sawit rakyat pada tahun 2018 baru mencapai 3,11 ton/ha, sementara perkebunan swasta dan perkebunan negara memiliki produktivitas masing – masing 3,96 ton/ha dan 4,01 ton/ha.

Padahal Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah memiliki standar keproduksian kelapa sawit berdasarkan kesesuaian lahan. Produkvitas kelapa sawit bervariasi pada setiap tingkat umur tanaman dimana puncak produktivitas terjadi pada tanaman remaja dengan rentang umur 9-13 tahun. Produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh kesesuaian lahan budidaya yang dapat dikelompokkan menjadai 3 jenis lahan yaitu S1, S2, dan S3.

Jika kebun kelapa sawit ditanam pada lahan kelas S1 (lahan paling cocok untuk budidaya kelapa sawit), maka produktivitas kelapa sawit dapat mencapai 35 ton TBS/Ha pada umur remaja. Oleh sebab itu, petani rakyat harus memiliki pengetahuan kesesuaian lahan dalam pengusahaan kelapa sawit.

Selain produksi TBS yang bervariasi pada setiap umur tanaman, rendemen CPO pada TBS yang dihasilkan tanaman kelapa sawit juga bervariasi pada setiap umurnya. Menurut PPKS, rendemen CPO tanaman kelapa sawit mencapai 24 persen pada selang umur tanaman 7 – 19 tahun.

Kemudian memasuki umur tanaman tua, nilai rendemen CPO akan mengalami penurunan sehingga tanaman kelapa sawit harus diremajakan (replanting) setelah berumur 25 tahun. Dan kondisi kebun sawit rakyat yang mulai berkembang sejak tahun 1980-an sudah banyak yang harus segera diremajakan dan menggantinya dengan bibit unggul agar produktivitas kelapa sawit rakyat dapat ditingkatkan.

Reporter : GlobalPlanet Editor : M.Rohali 132