Berita :: GLOBALPLANET.news

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara. (Foto: Dok)

08 Februari 2019 20:12:37 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET.news - Sembilan orang komplotan bandar sabu Letto cs, divonis hukuman mati di PN Palembang, Sumsel. Majelis menilai Letto cs terbukti sebagai bandar narkoba lintas provinsi 9 Kg.

Vonis kesembilan komplotan, Letto cs kini seolah menambah semangat bagi pihak kepolisian dalam memberantas para bandar narkoba. Bahkan Kapolda Sumsel, Irjen Zulkarnain mengapresiasi kenerja para anak buahnya. 

"Saya mengaprsiasi kinerja penyidik bisa meyakinkan kepada JPU sampai mereka dihukuman mati. Saya katakan ini kinerja bagus, ini jadi pelajaran bersama," terang Zulkarnain di Polda Sumsel, Jumat (8/2/2019).

Tak hanya itu, Zulkarnain menyebut akan menindak tegas para bandar yang masih beraksi di Bumi Sriwijaya. Pernyataan itu disampaikan karena akhir-akhir ini masih banyak peredaran sabu di wilayahnya.

"Pada bandar saya katakan jangan main - main. Apalagi untuk bandar-bandar yang jaringan lapas, pasti akan ditindak tegas," tegas Zulkarnain.

"Kalau saya boleh minta sama Lapas, ya jangan ada komunikasi setelah di dalam. Kenapa? Karena bandar mengendailikan ini dari dalam kan pakai alat komunikasi juga, kan sudah sering kita ungkap," kata Zulkarnain. 

Selain Letto cs, Kapolda turut mewanti bandar lain yang ditangkap pada kurun waktu 2018 lalu. Mulai dari 2 kurir asal Lapas Jambi dengan barang bukti 6 Kg sabu sampai bandar yang merupakan pecatan polri bernama Firman dengan barang bukti 7,6 Kg sabu.

"Yang lain mudah-mudahan divonis mati juga. Termasuk yang 7 Kg lebih itu, kami sampaikan ya kalau bisa sama hukuman mereka," tutup mantab Kapolda Riau ini.

Sebagaimana diketahui, sembilan orang bandar sabu asal Surabaya, Jawa Timur, Letto cs, divonis hukuman mati oleh hakim PN Palembang. Majelis menilai Letto cs terbukti sebagai bandar narkoba 9 Kg lintas provinsi.

Sidang bandar sabu seberat 9,3 kilogram digelar di PN Palembang, Kamis (7/2). Sidang dipimpin oleh tiga hakim, Efrata Tarigan, Ahmad Suhel, dan Yunus, secara bergantian mengingat surat putusan dibacakan terpisah selama 6 jam mulai pukul 15.30 WIB sampai 21.00 WIB. 

Reporter : Rio Siregar Editor : Zul Mulkan 218