Berita :: GLOBALPLANET.news

Perajin besi membuat parang yang dipesan konsumennya, Senin (11/2/2019). (Foto: Adi Irawan)

11 Februari 2019 10:22:42 WIB

BANYUASIN, GLOBALPLANET.news - Harga karet di tingkat petani Rp6.000 perkilogram dan biaya untuk membeli pahat, alat untuk menyadap, Rp25.000. Dan jika petani mengalami kerusakan pahat, biaya memperbaikinya Rp10.000 lebih tinggi dari harga satu kilogram karet.

Akibatnya, petani mengurangi penyadapan dan para perajin besi juga menjadi lesu, karena berkurangnya pesanan pahat dan parang dari petani. Kondisi ini telah berlangsung lama dan tidak ada tanda untuk membaik.

Kondisi tersebut terpantau di Kecamatan Sembawa, Banyuasin, Sumsel, salah satu sentra karet. Bahkan Sembawa menjadi tempat Penas KTNA di era Presiden SBY. Namun itu tinggal kenangan, harga karet masih rendah dan dampaknya terus meluas.

Yusuf, perajin besi di Desa Pulau Harapan, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin mengatakan, sejak enam bulan terakhir, omsetnya menurun drastis salah satu penyebabnya harga karet yang anjlok, apalagi usaha pandai besi tergantung dengan petani karet.

"Semua ini akibat perekonomian yang tidak stabil membuat usaha kecil seperti perajin besi terus merugi dan lama kelamaan akan tutup, karena minimnya permintaan," kata kepada globalplanet, Senin pagi (11/2/2019).

Petani saat ini lebih memilih memperbaiki pahat, dibandingkan membuat baru, apalagi harga perbaikan pahat lebih murah dibandingkan membuat pahat yang baru. "Sekarang harga membuat pahat baru berkisar Rp25 ribu, sedangkan jasa perbaikannya hanya Rp10 ribu," jelas dia.

Sementara itu, Sunarni warga Lalang Sembawa mengeluhkan, harga karet yang belum beranjak dark Rp.6000 perkilo, sehingga dampaknya petani mengurangi jumlah sadapan, dan terpaksa mencari pekerjaan sampingan. Bagitu juga untuk membuat pahat, sudah pasti tidak mungkin, karena petani saat ini malas menyadap.

"Sekarang petani banyak yang beralih pekerjaan lain, seperti buruh bangunan, mengojek dan membuka usaha kecil-kecilan dan sebagainya,” pungkas dia.

Reporter : Adi Editor : Zul Mulkan 229