Berita :: GLOBALPLANET.news

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri, saat menjelaskan kerja BRG hingga 2018, Kamis (28/2/2019). (Foto: Adi Kurniawan)

28 Februari 2019 12:34:51 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Badan Restorasi Gambut (BRG) terus lakukan upaya aktif merestorasi gambut melalui kegiatan Pembasahan Kembali (Rewetting), Revegetasi, Revitalisasi SosiaI-Ekonomi masyarakat dan Program Desa Peduli Gambut di Provinsi Sumatera Selatan.

Hingga 2018, luasan Iahan terdampak kegiatan restorasi yang dilakukan BRG, Pemda bersama para mitra dan masyarakat di provinsi ini sebesar 102.092 hektar.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri mengatakan, pembasahan ekosistem gambut merupakan upaya awal pencegahan kebakaran. Namun demikian, pihaknya perlu tetap waspada karena kebakaran masih berpotensi terjadi. Kerusakan gambut yang sangat parah memerlukan waktu panjang untuk pemulihan karena gambut belum sepenuhnya kembali pada kondisi semula.

"BRG mencatat penurunan titik panas secara signifikan ditemukan pada lokasi yang makin dekat dengan PIPG. Jika berada pada radius 0-1 km dari PIPG, rata-rata hanya ada 2,4% hotspot. Semakin jauh dari PIPG, hotspot bertambah. Misalnya pada jarak 1-2 km, ditemukan 5,6% hotspot dan pada jarak Iebih dari 2 km ada 92% hotspot," katanya, kepada awak media, Kamis (28/2/2019).

Kegiatan penyiapan dan pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam program Desa Peduli Gambut (DPG). Untuk Provinsi Sumatera Selatan, program DPG pada 2017 2018 dilakukan BRG bersama para mitra pada 43 desa/kelurahan yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering llir (OKI).

Desa Bumi Agung di Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin adalah salah satu desa yang masuk ke dalam Program DPG. Desa ini mendapat penghargaan sebagai Desa Peduli Gambut Terbaik pada perayaan 3 Tahun Restorasi Gambut di Jakarta. 

Bumi Agung memiliki demplot pertanian gambut alami dan tanpa bakar. Demplot ini dimanfaatkan oleh petani untuk menanam berbagai jenis tanaman termasuk nanasi Salah satu produk yang dihasilkan oleh petani di Desa Bumi Agung adalah kripik nanas. Produk ini dikembangkan oleh Seniman Pangan yang bergabung ke dalam JejarIng petani yang dibina Javara Indonesia, sebuah perusahaan eksportir pangan sehat di Jakarta.

Untuk memantau kinerja intervensi PIPG yang telah dibangun BRG bersama mitra mengembangkan teknologi pemantauan tinggi muka air (TMA) di Iahan gambut secara reaI time melalui sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA).

"Hingga Desember 2018, telah terpasang 21 unit alat pemantau TMA di Sumatera Selatan. Alat pemantau TMA ini akan merekam parameter tinggi muka air, kelembaban tanah dan curah hujan per 10 menit dan akan mengirimkan datanya setiap hari y ke server," pungkasnya.

Reporter : Adi Kurniawan Editor : M.Rohali 226