Berita :: GLOBALPLANET.news

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri, menjelaskan kerja BRG kurun waktu 2015-2018, Kamis (28/2/2019). (Foto: Adi Kurniawan)

28 Februari 2019 17:27:43 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara dini, Badan Restorasi Gambut (BRG) menggunakan alat yang disebut, Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (Sipalaga). Selama yang juga dilakukan yakni Pembasahan Kembali (Rewetting), Revegetasi, Revitalisasi SosiaI-Ekonomi masyarakat dan Program Desa Peduli Gambut di Sumatera Selatan.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri mengatakan, Sipalaga sendiri untuk pemantauan tinggi muka air di lahan gambut ini adalah hal penting dalam mencegah terjadinya kebakaran akibat kekeringan tersebut, yang membuat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Restorasi Gambut (BRG) yang dapat diakses semua orang melalui internet.

"Sistem ini terhubung dengan sejumlah sensor pemantau yang dipasang di dalam lahan gambut. Sensor berfungsi untuk mendeteksi tinggi muka air di dalam lahan gambut. Informasi dan data dari sensor yang dipasang inilah yang dibuat dalam sistem sehingga bisa diketahui lebih cepat dan bahkan bisa diakses melalui online secara real-time," katanya, saat dibincangi awak media seusai pemaparan yang dilakukan BRG kurun waktu 2015-2018 lalu, di Palembang, Kamis (28/2/2018).

Selain memasang sensor pengukur ketinggian muka air, melalui sistem ini BRG juga memasang sensor untuk mengukur curah hujan dan kelembapan tanah di lahan gambut.

“Jadi alat ini harus diimbangi dengan tindakan kita, meskipun telah dipasang harus juga dipantau, jadi jika Sipalaga ini telah menunjukan sinyal merah dan tidak ada antisipasi dia akan tetap terbakar, Sipalaga ini hanya pemberi sinyal dan membatu kita untuk melakukan upaya antisipasi,” ujarnya.

Myrna juga berharap kepada masyarakat di sekitar, alat tersebut harus dijaga sehingga tidak sampai hilang dan rusak. "Kita sudah memasang alat tersebut sebanyak 142 unit sementara untuk di Sumsel sendiri sebanyak 21 unit yang tersebar di daerah lahan gambut," bebernya.

Hasil pemantauan 142 unit ini kini sudah bisa diakses di situs sipalaga.brg.go.id. Lewat situs ini, publik dapat melihat informasi terkait kondisi curah hujan, status lahan, tinggi muka air, kelembapan tanah, hingga status lahan-lahan gambut yang terpantau. Ada tiga status lahan gambut yang diinfokan, yakni kosong, aman, dan waspada.

Myrna menambahkan, pada 2018, kegiatan fisik restorasi gambut dilakukan melalui mekanisme Tugas Pembantuan oleh Pemerintah daerah telah terbangun 99 sumur bor, 516 sekat kanal dan 18 upaya penimbunan kanal untuk program pembasahan ekosistem gambut atau rewetting. Untuk revegetasi tahun 2018 di Sumatera Selatan dilakukan pada 150 hektar Iahan sedangkan paket revitalisasi sosial-ekonomi berupa paket peternakan, perikanan dan perkebunan sebanyak 26 paket telah didistribusikan kepada kelompok masyarakat di desa pada area target restorasi.

"Ini kita bangun di Sumsel saja, belum di provinsi lain. Dengan adanya pencegahan dini tersebut sangat efektif terlihat 2018 lalu tidak terlalu tinggi kebakaran lahan khususnya gambut dari tahun sebelumnya seperti 2015 lalu," pungkasnya.

Reporter : Adi Kurniawan Editor : Zul Mulkan 126