Berita :: GLOBALPLANET.news

Disaksikan masyarakat, Gubernur Sumsel Herman Deru bersama Bupati Muara Enim Ahmad Yani meresmikan Festival Melemang di depan Gor PTBA di Muara Enim, Sabtu (23/3/2019). (Foto: ist)

24 Maret 2019 08:09:00 WIB

SUMSEL, GLOBALPLANET - Lemang adalah panganan tradisional yang terbuat dari beras ketan putih dicampur santan kelapa dan bumbu sehingga menjadi adonan. Kemudian adonan dimasak dengan wadah ruas bambu yang dipanggang dengan api dari bahan kayu bakar.

Sedangkan Melemang adalah kegiatan membuat dan memasak lemang (kemudian disingkat melemang) secara bersama – sama, yang pada zaman dahulu untuk persiapan hajatan di masyarakat. Biasanya ada dalam hantaran atau antar – antaran jelang pernikahan, pesta rakyat dan kegiatan lainnya di masyarakat. Terutama di desa – desa, tradisi Melemang yang dahulu sering dilakukan teriring waktu mulai berkurang.

Lemang memang bukan milik Sumsel satu – satunya, Lemang juga menjadi tradisi di Priovinsi Bengkulu, Jambi dan terutama di Sumatera Barat (Sumbar) yang memiliki tradisi yang terjaga hingga kini. Di Padang tradisi membuat lemang atau Malemang adalah Malamang (dalam bahasa minang).

Di Sumsel, panganan yang memiliki usia jauh lebih tua dari sebuah mal di Kota Palembang ini dapat ditemui setiap hari di Jalan Lintas Kabupaten Lahat – Kota Pagaralam. Jika mengunjungi Kota Pagaralam, maka dapat melihat proses Melemang, membeli dan menikmati panganan dalam bambu ini. Harganya cukup murah, hanya berkisar Rp7.000 hingga Rp10.000 perbatang.

Memang seiring waktu, tradisi memasak bersama jelang pesta pernikahan dan hajatan di desa – desa mulai teracuni dengan sistem prasmanan. Jasa Catering bermunculan di berbagai tempat. Sehingga tidak salah tradisi Melemang memudar dan membutuhkan upaya untuk menghidupkan kembali.

Seperti yang dilakukan Pemkab Muara Enim bersama PT Bukit Asat Tbk dan Bank Sumsel Babel. Sabtu (23/3/2109), digelar Festival Melemang dan Ngopi Bareng yang tak kalah menarik, di halaman Gor PT Bukit Asam, Tanjung Enim, Muara Enim, Sumsel. Festival ini mendapat apresiasi dari Gubernur Sumsel Herman Deru. "Ini luar biasa," ujar gubernur di Muara Enim.

Herman Deru membenarkan, sebelum diadakan festival Melemang, panganan ini hanya dianggap makanan biasa oleh masyarakat maupun orang luar. Namun dengan difestivalkan seperti ini, kreatifitas masyarakat langsung muncul menghasilkan Lemang yang beragam rasa dan warna sehingga membuatnya menjadi menarik dan memiliki nilai jual.

"Contohnya Lemang ini, selama ini orang hanya tau ini hanya sebuah bungkusan daun tidak begitu istimewa. Tapi setelah diadakan festival Lemang bisa dikenal dan disuka. Orang berlomba-lomba membuat lemang yang enak, hasilnya kini lemang jadi terkenal. Nah ini butuh upaya serius dari Pemkab dan masyarakat setempat."

Herman Deru, Gubernur Sumsel 

Ia berharap festival semacam terus digalakkan dan dipublish secara terus menerus sehingga Lemang dan kearifan lokal lainnya semakin dikenal. Dengan demikian ditargetkan akan menarik perhatian masysrakat luar menjadikan Muaraenim sebagai daerah tujuan destinasi wisata. "Dampaknya pasti ada. Dengan pemberitaan terus menerus yakinlah kita tak akan kalah dengan Banyuwangi yang sudah lebih dulu terkenal," jelasnya.

Bupati Muaraenim Ahmad Yani mengatakan, festival Melemang tidak hanya untuk menarik kunjungan saja melainkan untuk menurunkan angka kemiskinan di Sumsel hingga 1 digit. "Kami harap ini mendorong pergerakan ekonomi lokal juga meningkatkan daya saing. Kalau ekonomi masyarakat hidup kita bisa ikut menurunkan angka kemiskinan di Sumsel," jelasnya.

Dalam pelaksanaan festival ini Ahmad Yani mengakui banyak mendapat dukungan dari perusahaan di sekitar salah satunya PTBA dan juga Bank Sumsel Babel (BSB). Dia berharap ini akan diikuti BUMN dan perushaan lainnya sehingga kegiatan bisa digelar dengan kapasistas yang lebih besar.

"Semoga ada dampak positif dalam upaya kami meningkatkan pariwisata dan menumbuhkembangkan potensi lainnya di Muaraenim. Termasuk komoditas kopi yang saat ini masih terkendala keberlangsungan produksinya," jelas politisi Demokrat.

Di tempat yang sama Direktur Produksi PTBA Suryo Eko Saputro menjelaskan kegiatan ini meruoakan rangkaian HUT ke-38 PTBA dan 100 tahun kehadiran kegiatan penambangan di Muaraenim. "Ini hanya bagian kecil. Kami ingin mewujudkan Tanjung Enim dan Muaraenim sebagai daerah destinasi terbaik di Sumsel. Program ini sudah dicanangkan beberapa waktu lalu dan didukunh kuat Bupati. Karena kami yakin Wisata adalah salah satu sektor yang tidak terpengaruh gejolak ekonomi," ujarnya.

Seperti di Bali menurutnya demikian pula masyarakat Muaraenim. Setelah operasional tambang berakhir pihaknya tak ingin ini menjadi kota mati dan ditinggalkan. Dengan. membangkitkan ekonomi wisata diharapkan masyarakat setempat tidak akan selalu bergantung dengan hasil tambang di masa depan.

Festival unik tersebut tampak sangat meriah. Selain diramaikan dengan lomba membuat lemang, para tamu dihibur dengan penampilan fashion show batik khas Serasan Sekundang. Bahkan tamu undangan juga disajikan lemang dengan kopi sebagai pendampingnya.

Reporter : globalplanet Editor : Zul Mulkan 298