Berita :: GLOBALPLANET.news

Bupati Lahat, Cik Ujang SH saat menemui masa di halaman Pemkab Lahat, Senin (1/4/2019). (Foto: Ferry Andhika)

01 April 2019 19:41:16 WIB

LAHAT, GLOBALPLANET - Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Komunitas Peduli Lembah Serelo (KPLS) Kabupaten Lahat, Sumsel menggelar aksi di halaman pemkab setempat. Mereka mendesak segera dipulangkan gajah yang dititipkan di Jalur 21 Banyuasin.

Sebaiknya 19 Maret lalu delapan dari 10 gajah di Hutan Suaka Alam atau Pusat Pelatihan Gajah di Merapi Selatan Lahat dievakuasi ke Hutan Konservasi Padang Sugihan, Jalur 21 Banyuasin. Pemindahan terkait sengketa lahan antara BKSDA wilayah II Lahat dengan warga Desa Padang Baru, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat. "ulangkan Gajah, Selamatkan kawasan hutan suaka alam," teriak Koordinator Aksi, Syaik Muhammad Amrullah dalam orasinya di halaman Pemkab Lahat, Senin (1/4).

"Bupati harusnya menjadi pionir dalam menjaga kawasan hutan suaka alam yang menjadi pusat pelatihan gajah ini, agar terbebas dari kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terjadap keutuhan kawasan suaka alam sesuai amanah UU No.5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosstemnya, pasal 21 Ayat 2 Huruf C," sampainya.

Aksi sempat diwarnai ketegangan karena massa memaksa masuk karena tak kunjung ditemui bupati. Saat bersamaan Bupati Cik Ujang sedang menggelar rapat mediasi antara PT Dizamatra dengan sejumlah mantan karyawan.

Masa yang sebelumnya sempat melontarkan kata-kata kasar, hingga menghina soal wawasan Bupati Lahat terkait yang dituntut akhirnya terdiam. Ketika Bupati Lahat menemui masa dan menjelaskan akar masalahnya. Bupati Lahat bahkan sempat menanyai masa, apakah aksi tersebut diorganisir seseorang atau tidak. 

"Kalian ini hanya bisa asal bicara saja, tanpa mengetahui yang sebenarnya. Coba tanya ke BKSDA, alasan kenapa gajah itu dipindahkan," kata Cik Ujang. 

Cik Ujang membeberkan, sebenarnya BKSDA sendiri yang sengaja membawa pergi gajah tersebut, karena tidak mau mengeluarkan anggaran untuk makan gajah. Dimana setiap satu minggu sakali, gajah harus diberi makan pelepah dan batang pisang, namun lebih memilih gajah dibiarkan makan rumput. 

"Kalau mau aksi, pelajari dulu masalahnya. Jangan demo Pemkab Lahat, demo kantor BKSDA sana. Tanya kenapa gajah dibawa keluar Lahat, tanya kenapa gajah hanya makan rumput," bebernya. 

Lanjut Cik Ujang, sepengetahuan dirinya yang asli warga Merapi, BKSDA memiliki anggaran untuk makan hingga perawatan gajah. Namun anggaran tersebut tidak pernah sampai ke Lahat. Dirinya akan mendukung gajah tersebut dibawa lagi ke Lahat, asalkan dibuat kembali pusat pelatihan gajah.

"Bila perlu bawah 10 atau 30 gajah kesini,  jadi lahan 200an hektar yang diberikan Pemkab Lahat ini tidak sia-sia. Kita akan dukung kalau itu dijadikan tempat pariwisata. Tapi kalau ditinggalkan tanpa diurus, ya untuk apa," sampai Cik Ujang. 

Reporter : Ferry Andhika Editor : Zul Mulkan 110