Berita :: GLOBALPLANET.news

Rapat Koordinasi Penanganan Banjir di Kota Medan dan sekitarnya di Kantor Gubermur Jalan Diponegoro Medan, Rabu (8/5/2019). (Foto: Ist)

08 Mei 2019 21:09:42 WIB

MEDAN, GLOBALPLANET - Bila hujan lebat turun, walau dalam waktu relatif singkat, Kota Medan langsung tergenang banjir di banyak titik. Bertahun-tahun demikian tanpa solusi yang memadai dari Pemerintah Kota (Pemko) Medan.

Namun di mata akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga mantan Pimpinan Proyek (Pimpro) Penanganan Banjir Sungai Citarum Asman Sembiring, masalah banjir di Medan tidaklah sesulit Jakarta. Bahkan, kata Asman Sembiring, seharusnya Kota Medan tidak mengalam banjir walau hujan lebat turun.

Hal itu disampaikan Asman Sembiring di hadapan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang saat itu memimpin rapat koordinasi penanganan banjir Kota Medan dan daerah sekitarnya di ruang rapat lantai 10 Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30, Medan.

Turut hadir dalam rapat Pangdam I BB/Bukit Barisan MS Fadhilah, Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II Selamat Rasidi, Dir Binmas Poldasu Parluatan Siregar serta OPD Pemprov Sumut terkait.

“Melihat kemiringannya, seharusnya Medan tidak banjir. Medan itu ada di kemiringan 15 sampai dengan 60 msl, itu harusnya sangat bagus untuk mengalirkan air," ujar Asman Sembiring.

Namun, sambung Asman, yang menjadi masalah sekarang adalah banyaknya saluran yang tersumbat atau sungai yang mengalami pendangkalan.

"Akibatnya, drainase yang tumpat dan sungai yang mengalami pendangkalan ini jadi tidak mampu lagi menahan debit air yang datang,” kata Asman.

Asman menguraikan, penyebab utama terbesar banjir Kota Medan adalah meluapnya sungai-sungai utama. Sungai-sungai itu seperti Sungai Belawan, Badera, Deli, Babura, Sei Kambing, Selayang dan Sei Putih.

"Sungai-sungai itu berada di bawah wewenang Pemerintah Pusat melalui BWSS II. Artinya peran Pemerintah Pusat dalam Banjir Kota Medan sangat besar,” paparnya.

Kemudian, sambung Asman, yang menjadi masalah penanganan banjir Medan adalah masalah sosial, pemukiman penduduk yang semakin padat dan dibangun tanpa memperhitungkan aliran sungai atau drainase yang sudah ada. 

“Secara teknis penanganan banjir Medan tidak sulit, tetapi yang membuat sulit adalah masalah sosialnya. Pemukiman penduduk yang semakin padat dan dibangun tanpa memperhitungkan aliran air, bahkan ada yang malah mempersempit dan aliran sungai. Ditambah dengan sampah, aliran-aliran sungai yang menyempit dan mendangkal akhirnya meluap,” tambahnya.

Sementara itu Kepala BWSS II Roy Panagom Pardede mengklaim terus bergerak untuk melakukan normalisasi sungai-sungai yang ada di Provinsi Sumut, terutama saat ini untuk sungai di Medan.

Ia menyebutkan sekitar lokasi Pamen, Kampung Mandailing, Medan Baru, Polonia dan Karya Darma Ujung. “Selanjutnya kita akan menormalisasi daerah sekitar Jamin Ginting, Hotel Cambridge, Sungai Babura, Sungai Deli dan sungai lainnya,” kata Pardede.

​​​​​​

Reporter : Hendrik Editor : Zul Mulkan 81