Berita :: GLOBALPLANET.news

Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Sumut H Khairul Mahalli. (Foto: Ist)

23 Mei 2019 15:14:35 WIB

MEDAN, GLOBALPLANET - Perang dagang yang terjadi antara dua raksasa ekonomi dunia, Republik Rakyat China (RRC) dan Amerika Serikat), berimbas negatif ke pertumbuhan berbagai sektor bisnis, termasuk aktivitas bisnis bongkar muat kontainer di pelabuhan yang ada di berbagai negara atau global container throughput.

Tahun ini, proyeksi pertumbuhan global container throughput atau bisnis kontainer bongkar muat skala global hanya 2,5%.

"Hal ini jauh di bawah pertumbuhan di tahun 2017 yg tumbuh 6,7% Dan tahun 2018 yang tumbuh 5,2%," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sumut versi Edy Ganefo, Khairul Mahalli, kepada para wartawan di Medan, Kamis (23/5/2019).

Khairul yang saat ini dipercaya sebagai Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Sumut ini menyebutkan, situasi tersebut disebabkan antara lain karena eskalasi perang dagang antara China Dan Amerika Serikat.

Ia menyebutkan, beberapa kawasan pelabuhan di dunia juga mengalami penurunan seperti pelabuhan di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

"Kayak Dubai Port dan pelabuhan lainnya di Timur Tengah mengalami penurunan volume throughput atau, bongkar muat sekitar 10%. Begitu juga negara-negara di benua Afrika mengalami penurunan selitar 4% sampai 5%," kata Khairul Mahalli.

Hal yang sama juga terjadi di sejumlah pelabuhan di kawasan Oceania yang mengalami penurunan volume sekitar 1%. Karena itu, Khairul Mahalli menilai tidak aneh kalau throughput di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta juga mengalami penurunan di kuartal pertama tahun 2019.

"Karena di Timur Tengah, Afrika dan Oceania adalah tujuan eksport Kita. Akan tetapi pelabuham di China dan Hongkong masih mengalami kenaikan antara 4 % sampai 7%," tegas Khairul Mahalli.

Reporter : Hendrik Hutabarat Editor : M.Rohali 81