Berita :: GLOBALPLANET.news

09 Juli 2019 11:04:00 WIB

OLEH : Maspril Aries - Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

 

Seorang teman yang tengah berada di rantau saat berlangsung Asian Games XVIII - Agustus 2018 lalu sempat pulang ke kota kelahirannya, Palembang. Teman tersebut mengaku merasa senang dan bangga saat Palembang bersama Jakarta menjadi tuan rumah pesta olah raga negara-negara Asia tersebut. 

Sebelum kembali ke rantau dia mengaku punya mimpi, “Saya bermimpi beberapa tahun mendatang kembali ke sini untuk menonton MotoGP langsung di sirkuit Jakabaring bukan melalui layar televisi,” katanya.

Namun mimpi tersebut harus kandas karena tidak akan pernah terwujud. Mimpinya kandas karena MotoGP atau Moto Grand Prix di Indonesia akan terlaksana tapi bukan di Palembang melainkan di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2021. Dorna Sports SL sebagai pemegang hak siar kejuaraan dunia MotoGP dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) telah menandatangani Promoters’ Contracts di Madrid, Spanyol pada 28 Januari 2019, sekaligus memastikan gelaran MotoGP Indonesia di Mandalika, Lombok, NTB. Kesepakatan terjalin antara CEO Dorna Carmelo Ezpeleta dan Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer.

Keinginan Indonesia menjadi tuan rumah pelaksana MotoGP sudah sejak lama, wacana Moto GP Indonesia terus menguat pada 2016 dan seterusnya. Sebelum Mandalika terpilih sebagai tempat pelaksana Moto GP Indonesia, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sudah lebih dulu bersiap untuk melaksanakan kejuaraan balap motor internasional tersebut. Rencana dipersiapkan sudah matang, desain atau layout sirkuit Jakabaring pun sudah dipersiapkan Herman Tilke sang arsitek sirkuit balap MotoGP dan Formula 1.

Herman Tilke adalah arsitek sirkuit untuk sirkuit Sepang, Malaysia (1999) – F1 & MotoGP, Sakhir, Bahrain (2004) – F1, Shanghai, China (2004) – F1, Istanbul Park, Turki (2005) – F1, Valencia Street Circuit, Spanyol (2008) – F1, Motorland Aragon, Spanyol (2009) – MotoGP,  Marina Bay, Singapura (2009) – F1, Yas Marina, UEA (2009) – F1, Korean International Circuit, Korsel (2010) – F1, Buddh, India (2011) – F1, Circuit of The Americas, Amerika (2012) – F1 & MotoGP, Sochi, Rusia (2014) – F1, Autodromo Hermanos Rodriguez, Meksiko (2015) – F1, dan sirkuit Baku, Azerbaijan (2016) – F1. 

Bukan tentang Herman Tilke yang akan dibahas dalam tulisan ini. Juga bukan sesal yang ingin dituangkan dalam naskah tulisan ini, “Mengapa MotoGP gagal berlangsung di Palembang?” Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada lagi yang harus disesali. 

Mari bayangkan saja andai MotoGP jadi berlangsung di Palembang, keuntungan dan manfaat apa yang bisa kita raih? Mari belajar pada kesuksesan negara tetangga Malaysia yang sukses menyelenggarakan MotoGP dan juga Formula 1 atau F1 di sirkuit Sepang. 

Ketika Alex Noerdin menjabat Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) mencanangkan gagasan melaksanakan MotoGP di sirkuit Jakabaring, banyak kritik dan sinisme terhadap gagasan tersebut yang terlontar. Ada yang menuding menyelenggarakan MotoGP tidak ada manfaatnya bagi daerah. Dalam bahasa ekonominya, “Apa benefit-nya?”

Kalau tidak manfaatnya, mengapa Presiden Joko Widodo merestui Indonesia melaksanakan MotoGP di Mandalika? Presiden Jokowi saat bertemu CEO Dorna Carmelo Ezpeleta di istana Bogor pada 11 Maret 2019 menyatakan, dari ajang balap motor bergengsi MotoGP akan membawa dua manfaat bagi Indonesia dari sisi olahraga dan pariwisata. “Kita akan dapat dua kemanfaatan selain olahraga, pariwisata kita juga secara brand akan terangkat. Dan Mandalika mendapatkan investasi karena ini,” kata Presiden Joko Widodo.

Mari lihat apa yang diraih Malaysia dari MotoGP dan sirkuit Sepang. MotoGP adalah salah satu event olahraga internasional yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam dunia otomotif, kejuaraan MotoGP adalah ajang balap motor internasional yang paling bergensi di dunia setelah balap mobil F1.

Penyelenggaraan MotoGP yang telah berlangsung sejak 1949 selalu menghadirkan sponsor-sponsor dan pabrikan motor kelas dunia. MotoGP adalah ajang unjuk gigi pabrikan motor dari seluruh dunia maupun pembalapnya secara individu. Pabrikan motor dunia yang terdaftar di MotoGP adalah Yamaha, Honda, Ducati, Suzuki dan Kawasaki. Penyelenggaraan Moto GP telah menjadi magnet tersendiri bagi para investor untuk terlibat berinvestasi didalamnya. 

Maka tak heran jika banyak negara berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri sebagai penyelenggara MotoGP, termasuk negara Qatar di Timur Tengah dengan luasnya yang hanya 11.437 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa (sama dengan penduduk Kota Palembang) sudah menjadi penyelenggara MotoGP sejak 2004 dengan membangun sirkuit internasional Losail di Doha.

Bagaimana dengan Malaysia? Malaysia membangun sirkuit Sepang pada masa kepemimpinan Perdana Menteri Mahathir Mohammad yang mencanangkan Malaysia menjadi negara yang maju dan negara industri dengan Vision 2020. Negeri jiran tersebut sadar bahwa olahraga merupakan event yang sangat global, mewakili kepentingan-kepentingan banyak negara dan mampu mengintegrasikan masyarakat dunia melalui pengaruhnya. Event olahraga internasional juga menjadi tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa. 

Malaysia pun membangun sirkuit internasional Sepang. Sirkuit di atas lahan bekas perkebunan kelapa sawit seluas 260 hektar ini dirancang oleh Herman Tilke. Sirkuit ini memiliki konsep natural stadium yang berkontur bukit dan dikelilingi oleh 5000 pohon Palem di sekeliling sirkuit. 

Pembangunannya dimulai tanggal 5 Desember 1998 dengan waktu pengerjaan selama 14 bulan dan biaya pembangunan sirkuit ini sekitar RM (Ringgit Malaysia) 286 juta atau 12 juta dollar AS. Pembangunannya memenuhi standar dari FIM (Fédération Internationale de Motorcycles).

Bukan hendak memuji Malaysia. Mereka sangat memahami bahwa MotoGP merupakan balap motor paling top di planet bumi. MotoGP akan memberi dampak positif yang besar terhadap Malaysia sebagai negara penyelenggara. Dampak positif bukan hanya sesaat, namun sepanjang sirkuit Sepang masih digunakan selama itu negara ini menikmati hasilnya. Jadi bukan sirkuit yang hanya dibangun sesaat untuk hanya satu kali event dan untuk memenuhi dahaga sesaat demi sebuah pencitraan.

MotoGP sebagai sebuah event olahraga yang mempunyai prestise tinggi dan mendatangkan banyak wisatawan mancanegara untuk Malaysia. MotoGP Sepang menjadi destinasi unggulan wisata Malaysia. Dalam satu kali kejuaraan Moto GP ratusan ribu wisatawan menjadi penonton yang memadati sirkuit berjarak sekitar 85 km dari Kuala Lumpur. Penonton yang menyaksikan MotoGP bukan dari Malaysia tapi juga dari negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. 

Dari data website www.gpone.com, pada 2017 sebanyak 70 persen penonton MotoGP di Sepang dari Malaysia, sisanya 30 persen penonton mancanegara dan dari jumlah 30 persen tersebut sebanyak 23,81 persen berasal dari Indonesia. Setiap tahun penonton yang datang selalu menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 2010 jumlah penonton tercatat 105.555 orang dan pada 2017 ada sebanyak 166.486 penonton yang datang ke sirkuit Sepang menyaksikan MotoGP selama tiga hari.

Para penonton datang dengan membeli tiket termahal tribun VVIP yang seharga 1058,94 Euro atau senilai 5026,62 Ringgit Malaysia (RM) atau sekitar Rp17.600.000. Tiket tribun biasa berkisar RM44 hingga RM330. Kejuaraan MotoGP di Sirkuit Sepang telah menjelma menjadi destinasi wisata olahraga yang sangat digemari di Asia Tenggara. 

Sekali lagi, andai MotoGP berlangsung di sirkuit Jakabaring Sport City (JSC) pada 2021, pada saat bersamaan jalan tol Lampung - Palembang telah selesai, maka para fans MotoGP akan datang dengan menempuh perjalanan darat dari dari Jakarta atau kota-kota lain di Jawa dengan menempuh waktu lama perjalanan antara 6 - 8 jam menyebrang melalui pelabuhan ferry Merak - Bakauheni dan melintas di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) mereka tiba di Palembang dan menginap antara 3 - 5 malam. Dari kedatangan para fans MotoGP tersebut entah sudah berapa benefit yang bisa diperoleh Palembang atau Sumsel? Silahkan hitung saja sendiri. ⦿

Reporter : globalplanet Editor : Zul Mulkan 218