Berita :: GLOBALPLANET.news

Pengamat Ekonomi Gunawan Benyamin. (Foto: Ist)

01 Agustus 2019 20:02:15 WIB

MEDAN, GLOBALPLANET - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut pada hari Kamis (1/8/2019) merilis pernyataan yang mengejutkan. Disebutkan, inflasi kumulatif Sumatera Utara pada Januari-Juli 2019 mencapai 5,21 persen, naik dibanding sampai Juni 2019 sebesar 4,30 persen.

Bahkan inflasi ini terbesar dibanding posisi pada dua tahun lalu ( tahun 2017 sebesar 3,21 persen dan tahun 2018 sebesar 1,23 persen) serta juga dibanding nasional sebesar 2,36 persen.

Situasi ekonomi yang dialami Sumut ini mendapat kritikan yang pedas dari pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin. 

Melalui surat elektronik, akademisi di sejumlah kampus ternama di kota Medan ini menilai Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan sejumlah Bupati di Sumut seharusnya merasa malu.

"Sudah seharusnya dengan inflasi sebesar itu, Gubernur dan Bupati malu karenanya. Saya memang lebih menekankan Gubernur dan Bupati, karena walikota pada umumnya tidak memiliki areal tanaman. Tetapi ingat, walikota di sini harus kreatif dalam mencari solusinya. Karena justru konsumen dan kontribusi inflasi Sumut didominasi oleh masyarakat di perkotaan," ujar Gunawan.

Kata Gunawan, para kepala.daerah selayaknya melakukan aksi nyata yang benar-benar bisa dieksekusi di lapangan dalam jangka pendek. 

"Bukan hanya sekedar melalukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar dengan mengecek ketersediaan dan harganya saja. Ini kan tidak menyelesaikan masalah, misalnya, masalah harga cabai yang mahal. Kalau mengecek karena tindakan spekulan atau semacamnya, saya yakin sekali masalah kita itu saat ini ada di hulu. Bukan di rantai distribusinya," tegas Gunawan Benjamin.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Syech Suhaimi kepada wartawan di kantor BPS Sumut Jalan Gagak Hitam Medan. Saat itu Suhaimi didampingi Kabid Statistik Sosial Mukhamad Mukhanif, menjelaskan, pada Juli 2019, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Utara mengalami inflasi yakni Sibolga 1,88 persen, Pematangsiantar 0,29 persen, Medan 0,95 persen dan Padangsidempuan 0,06 persen. Sehingga gabungan 4 kota IHK Sumut pada Juli 2019 inflasi sebesar 0,88 persen.

“Inflasi di Sibolga merupakan terbesar di Sumatera dan juga nasional,” jelas Suhaimi.

Ia menyebut, inflasi di Sumut ini dipicu oleh naiknya harga cabai merah yang memberikan andil inflasi di empat kota IHK. Selain cabai merah, juga ada emas perhiasan dan sewa rumah.

Bulan Juli 2019, Medan inflasi sebesar 0,95 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 144,92 pada Juni dengan 2019 menjadi 146,30 pada Juni 2019. 

“Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks sebagian besar kelompok pengeluaran,”‘ katanya.

Kelompok bahan makanan sebesar 3,29 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,09 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen; kelompok sandang sebesar 1,23 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,09. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,43 persen.

“Sementara itu, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan menujukkan penurunan indeks yaitu sebesar 0,24 persen,” ungkapnya.

Komoditas utama penyumbang inflasi selama Juli 2019 di Medan antara lain cabai merah, emas perhiasan, tarif pulsa ponsel, daging ayam ras, sawi putih, dencis dan upah pembantu rumah tangga.

Reporter : Hendrik Hutabarat Editor : M.Rohali 534