Berita :: GLOBALPLANET.news

Pungutan

15 Agustus 2019 16:34:00 WIB

OKI, GLOBALPLANET - Dengan dalih berbagai kegiatan, siswa dan orang tua murid masih saja harus mengeluarkan uang untuk membiayai kegiatan sekolah.

Salah satu contoh, pungutan kepada siswa terjadi di SMAN 2 Kayuagung, dimana per orang siswa diminta membayar Rp55.000/siswa untuk membiayai kegiatan Karnaval dalam rangka memeriahkan peringatan HUT RI ke 74 tahun 2019. Jika dikalkulasikan dengan jumlah siswa di sekolah itu sebanyak 788 orang, maka total dana yang dipersiapkan untuk menampilkan seni budaya dari SMAN 2 Kayuagung sebesar Rp43.340.000.

Adanya pungutan kepada siswa ini disesalkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Widodo MPd. Dia mengaku terkejut terkait pungutan siswa SMA Negeri 2 Kayuagung. Pungutan sebesar Rp55 Ribu bagi 788 siswa yang diperuntukkan kegiatan karnaval tidak seharusnya terjadi.

Ia menilai, selain kegiatan tersebut dipandangnya tidak bersifat mendesak dan pungutan termasuk yang tidak disarankan pihak Diknas. "Bisa berpotensi sebagai pungutan liar. Karena pungutan ini sendiri pun tidak kami rekomendasikan," terangnya, Kamis (15/8/2019).

Dirinya menjelaskan, sejumlah upaya pemerintah dalam meringankan beban wali murid agar dapat tetap sekolah. Selain dicover dengan Bantuan Operasi Sekolah (BOS) Reguler, juga disiapkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi siswa tidak mampu.

"Artinya, sekolah harus selaras dengan berpedoman semangat pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Bukan malah jadikan sekolah ladang bisnis. Ini yang mesti dipahami," tegasnya.

Karnaval sendiri, menurut Widodo, merupakan kegiatan di luar sekolah yang sejatinya tidak harus menjadi beban murid. Meski untuk memperingati HUT RI, pungutan sebesar tersebut jelas memberatkan. Terlebih lagi tidak seluruh siswa ikut kegiatan tersebut.

Terkait hal ini, Widodo mengatakan akan segera menindaklajuti pungutan ini dengan memanggil langsung kepala sekolah yang bersangkutan. "Banyak cara untuk memperingati hari kemerdekaan. Pastinya, siswa seharusnya tidak turut terbeban oleh kegiatan yang dimaksud," terangnya.

Jika ditotal, dengan memiliki 788 siswa, setidaknya Rp43.340.000 dipersiapkan untuk anggaran kegiatan unjuk penampilan budaya ini. Sedangkan dana BOS Reguler bagi SMAN 2 ini sendiri, tercatat, Triwulan I Tahun 2019 telah menerima Rp.220.460.000, lalu Triwulan II, menerima Rp441.280.000.

Secara aturan, sekolah yang dipimpin Hendri Sufianto, SMAN 2 Kayuagung bukan sekolah unggulan yang diperkenankan memungut dana dari murid.

Salah satu wali murid mengungkapkan, meskipun anaknya tidak mengikuti karnaval, namun dirinya mengaku terpaksa mengikuti keinginan sekolah. Sebaliknya, menurut wanita berhijab ini, seharusnya sekolah lebih bijak mensiasati keperluan diluar sekolah seperti karnaval. "Padahal anak saya tidak ikut karnaval, namun tetap dipungut," jelasnya.

Sebaliknya, pihak sekolah melalui Suparman justru terkesan menganggap sepele masalah ini. Ia tidak menampik pugutan tersebut. Ia malah mempersilahkan siswa tidak mampu segera menghadap Bagian Kesiswaan. "Bisa ngadap ke pak Iswani kalau tidak mampu, nanti diberikan keringanan," tandasnya.

Reporter : Eko Saputra Editor : M.Rohali 989