Berita :: GLOBALPLANET.news

09 September 2019 15:56:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Kebakaran hutan dan lahan tahun ini ternyata melebihi tahun 2018. Sepanjang tahun ini telak terdeteksi titik panas hingga 2.787 atau meningkat sebanyak 706 titik dibandingkan tahun 2018 sebanyak 2.081 titik. Karhutla ini dapat saja bertambah karena musim kemarau masih terjadi.

Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori mengatakan berdasarkan data jumlah titik hotspot terus mengalami peningkatan sejak tahun 2017 hingga tahun 2019.

Tercatat di tahun 2017, jumlah titik hotspot yakni mencapai 965 titik. Tahun 2018 yakni mencapai 2.081 titik. Sedangkan, tahun 2019 sejak Januari hingga September mencapai 2.787 titik.

"Memang kondisi musim kemarau saat ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Terlebih lagi, di tahun 2018 dilaksanakannya Asian Games," katanya saat dihubungi, Senin (9/9/2019).

Berdasarkan data tahun 2019, hotspot tertinggi terjadi pada bulan Agustus yang mencapai 1308 titik. Kemudian, untuk September sejak awal bulan hingga tanggal 9 yakni mencapai 912 titik. Menurutnya, tingginya titik hotspot di dua bulan tersebut dikarenakan puncak musim kemarau.

"Untuk wilayahnya yang terbanyak yakni berada di Muba dengan titik hotspot mencapai 828 titik. Kemudian, disusul wilayah OKI dengan jumlah 620 titik," terangnya.

Ia menjelaskan, titik hotspot tersebut bukan berarti lahan terbakar. Melainkan, hanya titik panas yang meningkat. Saat ini, total lahan yang terbakar sejak awal tahun yakni mencapai 2.291 hektar sejak awal tahun hingga September 2019. Dimana, yang paling luas yakni berada di Kabupaten Muba yakni sebanyak 1.070 hektar.

Menurutnya, besarnya luasan lahan yang terbakar ini diakibatkan sulitnya akses menuju lokasi, sehingga tim Satgas darat pun tidak mampu memadamkan dan hanya mengandalkan waterboombing. "Saat total heli yang diturunkan untuk melakukan waterboombing yakni sebanyak 6 unit," ujarnya.

Meskipun begitu, pihaknya akan terus berupaya untuk terus melakukan upaya pemadaman sehingga bencana kabut asap dapat dihindari di Bumi Sriwijaya. "Kami terus berupaya. Bahkan, tim darat pun membuat akses sementara untuk masuk ke lokasi dalam upaya memadamkan karhutla," tutupnya.

 

Lahan Kosong Milik Perusahaan Terbakar

Hampir setiap hari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus terjadi di Sumsel. Bukan hanya lahan milik masyarakat, melainkan lahan milik perusahaan pun ikut terbakar. Salah satunya lahan kosong diduga milik PT Campang Tiga yang berada Desa Teluk Tenggulang, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin, Sumsel. 

Danramil Betung, Kapten Inf Sario mengatakan kejadian ini terjadi pada Minggu malam tepatnya pada pukul 18.00 WIB. Saat itu, pihaknya mendapatkan informasi dari anggota Babinsa Koramil bahwa ada lahan kosong diduga milik PT Campang Tiga terbakar.  "Untuk luasan yang terbakar yakni sekitar tiga hektar," katanya saat memberikan keterangan pers, Senin (9/9/2019).

Mendapatkan informasi tersebut, anggota Satgas gabungan karhutla tim 10 dari koramil beserta instansi dam masyarakat setempat pun langsung melakukan pemadaman. Pemadam juga dibantu oleh pihak perusahaan PT Campang Tiga dengan menurunkan tim Damkar ke lokasi karhutla untuk proses pemadaman.  

Dalam upaya pemadaman, pihaknya pun sedikit kesulitan dikarenakan lokasi semak belukar dan penerangan pun mulai gelap. Akibatnya, api pun sempat membesar menghabiskan hamparan semak belukar. 

Tepat pukul 02.35 WIB, api pun berhasil dipadamkan oleh tim gabungan dan tim damkar PT Campang Tiga. "Setelah padam, kami melakukan proses pembasahan untuk mengantisipasi menyalanya api kembali akibat tiupan angin. Setelah api benar padam dan kepulam asap menghilang, kami pun baru meninggalkan lokasi kebakaran," tutupnya. 

Reporter : Alwi Alim Editor : Zul Mulkan 76