Berita :: GLOBALPLANET.news

Rektor UIN Raden Fatah Prof Dr Sirozi saat diwawancara, Kamis (19/9/2019). (Foto: Rachmad Kurniawan).

19 September 2019 17:29:50 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Setelah ditagih janji akreditasi A oleh mahasiswanya yang demo di depan kantor Rektorat pada Rabu (18/9/2019), Rektor UIN Raden Fatah Palembang Prof. Dr. Sirozi mengutarakan target tersebut nyatanya kurang realistis.

Hal ini diungkapkannya usai shalat Istisqa di lapangan bola kaki UIN Raden Fatah. Sirozi mengungkapkan, ada beberapa alasan mengapa akreditasi belum kunjung berubah.

"Seperti yang banyak dipertanyakan mahasiswa, memang di tahun 2016 kita punya tekad dan semangat bagaiamana kita berjuang akreditasi kita ini menjadi A, jadi itu bukan janji sebenarnya," ungkap Sirozi, Kamis (19/9/2019).

Ia menjelaskan BAN-PT selaku badan akreditasi mutu pendidikan nasional telah merubah sejumlah standar akreditasi Universitas dari yang menggunakan standar 7 menjadi standar 9 untuk menuju akreditasi A.

"Per April 2019 BAN-PT telah resmi mengubah standar akreditasi salah satunya yang diubah adalah nilai akreditasi sebelumnya A, B, dan C, sekarang menjadi tidak terakreditasi, terakreditasi baik, dan terakreditasi unggul," bebernya.

Sirozi melanjutkan, kondisi peralihan IAIN menjadi UIN Raden Fatah benar-benar nol yang dimana saat itu 17 program studi belum lengkap dosen dan sarana prasarananya. Sementara syarat untuk menjadi akreditasi A minimal 50 persen program studi terakreditasi A.

Gedung B yang baru 60 persen pembangunannya, juga menjadi alasan untuk mengurungkan sementara niat UIN Raden Fatah menjadi akreditasi A.

"Dari prodi yang ada, kita hanya 20 persen yang memiliki akreditasi A. Belum lagi prodi yang baru, sehingga tidak mungkin untuk mengejar prodi baru ini menjadi A. Yang kita perjuangkan adalah bagaimana prodi ini menuju B, tahun ini insyaallah ada 9 prodi menjadi B. Proses kita masih jauh jadi kami fokus ke evaluasi dulu," tuturnya.

Dengan adanya perbedaan format penilaian, Sirozi menegaskan UIN Raden Fatah akan berfokus pada evaluasi tiap prodi.

"Berbagai alasan tersebut membuat target kita yang dicanangkan tahun 2016 lalu terlihat kurang relaistis. Daripada kita paksa-paksakan lebih baik fokus untuk akreditas sejumlah prodi," tutupnya

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 122