Berita :: GLOBALPLANET.news

Info grafis : oz/globalplanet.news

04 Oktober 2019 08:04:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Entah sampai kapan? Pertanyaan yang tidak salah karena pungli atau pemalak terus menghiasi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Tidak terhitung polisi melakukan penangkapan dan patroli, sudah sering juga jurnalis dari berbagai media melakukan indept reporting (investigasi), tetap ada saja pungli terhadap sopir truk angkutan barang.

Kondisi ini “menegaskan” jalan sepanjang 2500 km lebih, yang melintasi banyak wilayah hukum Polres, dari Aceh hingga ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung ini tak akan bersih dari pungli atau pemalak. Bahkan aksi pemalakan terhadap sopir truk angkutan barang dan terkadang travel ini meningkat di akhir – akhir ini.

Tim dari globalplanet.news yang berkesempatan menelusuri sebagian ruas Jalintim (Jalan Lintas Timur/bagian dari Jalinsum) menemukan banyak pemalak. Bersama anggota Romansa Sopir Truk (RST/salah satu perhimpunan sopir truk), pemantauan dilakukan di wilayah Sumsel. Dan ternyata, sepanjang wilayah Sumsel saja, terdapat delapan titik pemalakan yang akan bertambah di musim – musim tertentu.

Lepas dari Provinsi Jambi dan memasuki wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel para sopir truk langsung disambut pemalak di beberapa titik. Menurut Heri, anggota RST asal Sumatra Barat (Sumbar), untuk melintasi wilayah Sumsel, mereka para sopir minimal harus mengeluarkan uang Rp400 ribu. “Rp400 ribu itu minimal bang, abang lihat saja sendiri. Bayung Lincir, Bedeng Seng Bayung Lincir, Babat Supat, Sembawa (Banyuasin), Tanjung Rajo, Talang Pangeran. Mereka minta ada yang Rp50.000 kadang seratus, rata – rata Rp50 ribu,” ujarnya penuh harap polisi dapat membasmi pemalak.

Pasalnya, para sopir harus mengurangi jatah atau upah yang akan mereka terima, karena pemilik barang tidak menanggung atau tidak mau tau dengan pemalakan yang terjadi. “Uang pribadi bang, kita sopir ini istilahnya kayak kopi. Pahit atau manis tetap diminum, mau bagaimana lagi,” sesalnya.

Apakah pemalak memanfaatkan jalan rusak seperti yang selama ini terjadi? Heri yang merupakan saudara dari sopir yang dipalak di Lampu Merah Macan Lindungan dan truknya dirusak pelaku dengan palu baru – baru ini, dengan tegas mengatakan, “Palembang juga ada bang, kan viral di Macan Lindungan dan juga ada di Fly Over Kertapati. Hancur kami ini bang,” tandas Heri dengan canda khas para sopir truk.

Bentuk Komunitas dan Manfaatkan Teknologi

Didampingi sejumlah rekannya, Heri mengatakan, bicara pungli atau pemalak terjadi hampir di sepanjang ruas Jalinsum, namun terbanyak di Sumsel. “Jalinsum ini yang aman (dari pungli) hanya Sumbar dan Aceh, selebihnya hancur. Sekali jalan kita habis lebih dari Rp500 ribu bang,” katanya.

Berbagai upaya telah dilakukan para sopir angkutan barang ini, diantaranya menghidupkan perkumpulan atau komunitas sesama sopir. Sebut saja Romansa Sopir Truk (RST) dan Persatuan Driver Seluruh Indonesia (PDSI). Melalui organisasi ini, mereka berusaha menjalin solidaritas saling membantu dan mencegah menjadi korban pungli. Membuat video dan melapor ke aparat kepolisian setempat. “Jujur, laporan terus kita buat, tapi yang sigap itu cuma di Sumsel. Terima sekali sekali dengan timnya dari Polda Sumsel ada bang Hergon. Walaupun banyak titik (Pungli) tapi polisinya sangat sigap,” katanya.

"Kami ingin kenyamanan kami di jalan lebih diperhatikan, terutama tentang premanisme di jalan. Kami juga berharap kepolisian di provinsi lain bisa seperti Hergon dan anggota lainya, cepat dalam menanggapi keluhan kami terutama tentang pungli," katanya.

Di akhir pembicaraan, para sopir truk juga mengeluhkan, derita mereka di Jalan Lintas Tengah (Jalinteng, Lampung Martapura-Muaraenim- Linggau dan seterusnya). “Jalintim banyak pemalak, di Jalinteng di Sumsel ini bang, ya banyak setor cap atau merek – merek itu. Memang kecil Rp10 atau 20 ribu, tapi rapat (banyak), habis juga uang kita. Mudahan ini ada solusinya,” pungkasnya.

Reporter : Rio Siregar Editor : Zul Mulkan 879