Berita :: GLOBALPLANET.news

Upaya pemadaman di lahan yang terbakae oleh tim gabungan. (FOTO ALWI ALIM)

07 Oktober 2019 16:53:18 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Sumsel berdampak buruk bagi pengusaha sawit.

Ketua DPD Apindo Sumsel, Sumarjono Saragih mengatakan merujuk dari data yang dirilis oleh Global Forest Watch, Karhutla yang terjadi di Sumsel hanya 15 persen berada di wilayah konsesi secara nasional.

Sedangkan, untuk di Sumsel hanya dua persen karhutla yang terjadi di areal konsesi sawit. “Sisanya berada di tanah yang tidak bertuan atau dijaga,” katanya saat dihubungi, Senin (7/10/2019).

Menurutnya, dampak penyegelan perusahaan perusahaan yang ada di Sumsel tentunya sangat berpengaruh untuk menimbulkan stigma buruk bagi pengusaha sawit. Padahal, semua pengusaha sawit yang bernaung dengan Apindo sangat berkonsentrasi untuk antisipasi dan pengendalian karhutla.

Bahkan, pengusaha pun membentuk tim internal, penyediaan sarana dan prasarana kebakaran hingga membentuk Desa Peduli Api dan MAsyarakat Peduli Api di sekitar perkebunan.

“Karena itu, kami menolak jika ada anggapan bahwa pengusaha sawit menjadi biang kerok dari Karhutla di Sumsel. Karena, jika pengusaha ada yang menyuruh karyawannya membakar hutan itu sama saja dengan bunuh diri,” tegasnya.

Ia juga mengaku bahwa, setiap anggotanya mengetahui bahwa terikat pada aturan hukum yang bersifat tanggung jawab mutlak. Artinya, setiap izin yang diberikan pemerintah maka mereka harus bertanggung jawab meski sumber api itu tidak berasal dari dalam perusahaan.

“Kami berharap tidak ada tudingan. Karena, pengusaha mengerti dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya,” katanya.

Seperti diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terpaksa menyegel delapan lahan konsesi milik perusahaan di Sumsel. Delapan plahan konsesi ini milik perusahaan PT DGS dengan komoditi tebu di OKI, PT WAG dengan komoditi sawit di OKI, PT MBJ dengan komiditi sawit di OKI, PT DIL dengan komoditi sawit di Musirawas, PT TIAN dengan izin HTI di Musirawas.

PT BHL dengan izin menanam kayu jelutung di Musi Banyuasin, PT LBI yang merupakan perusahaan Singapura (PMA) yang izinya penanaman sawit di OKU, dan PT TAC yang bergerak dalam HTI di Musi Banyuasin. 

Reporter : Alwi Alim Editor : AT Alam 111