Berita :: GLOBALPLANET.news

Kondisi jalan Basuki Rahmat yang diselimuti kabut asap. (Foto: Rio Siregar)

09 Oktober 2019 11:33:04 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Sejak tiga hari belakangan, kabut asap di Palembang kembali pekat. Pada Rabu (9/10/2019) kabut asap itu mengganggu penglihatan karena jarak pandang sangat dekat, dimana jarak pandang terendah hanya berkisar 300-500 meter. Hal itu membuat masyarakat Palembang kembali merasa resah, karena kabut asap menganggu aktivitas warga.

"Saya kira kabut asap tidak lagi ada. Tapi selama 3 hari belakang muncul lagi dan hari ini terasa sangat pekat. Jarak pandang terbatas, dan aroma asapnya membuat sesak nafas," kata Hariyanto, warga Kecamatan IT II Palembang.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi SMB II Palembang mencatat angin permukaan umumnya dari arah Tenggara – Selatan dengan kecepatan 4-11 Knot (7-20 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari LAPAN Tanggal 09 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin 1, Tulung Selapan dan Mesuji.

"Intensitas asap pagi hari mulai pukul 04.00-07.00 WIB dan sore hari pukul 16.00-20.00 WIB dikarenakan labilitas udara yang stabil atau tidak ada massa udara naik pada waktu-waktu tersebut," ucap Bambang Benny Setiadji, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi BMKG SMB II Palembang.

Ia mengatakan, fenomena asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye, merah pada pagi atau sore hari. Hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena Kabut asap yang umumnya terjadi pada pagi hari.

"Jarak Pandang Terendah pada pagi hari 9 Oktober 2019 berkisar hanya 50-400 meter dengan Kelembapan pada saat itu 95-96 persen dengan keadaan cuaca Asap yang berdampak 8 penerbangan di Bandara SMB II Palembang mengalamai delay," ujarnya.

Secara regional, kata dia, munculnya Badai Tropis Hagibis di Laut Cina Selatan mengakibatkan kembali adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah badai tersebut. Hal ini mengakibatkan penurunan potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel tiga hari ke depan (10-12 Oktober 2019).

Sedangkan secara Lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif) akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan. "Biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang," jelasnya.

BMKG Sumsel menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati saat bertransportasi pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00) seiring potensi peningkatan partikel udara kering di udara (asap) dan menurunnya jarak pandang.

Juga mengimbau agar warga mengkonsumsi banyak air saat beraktifitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan dikarenakan udara akan terasa lebih terik pada siang hari karena posisi matahari berada di ekuator (khatulistiwa).

"Selain itu, kami juga tetap menghimbau untuk tidak melakukan pembakaran baik itu sampah rumah tangga maupun dalam pembukaan lahan pertanian atau perkebunan," tandasnya.

Reporter : Rio Siregar Editor : M.Rohali 80