Berita :: GLOBALPLANET.news

15 Oktober 2019 07:45:00 WIB

RIAU, GLOBALPLANET - Salah satu upaya pemerintah dalam peningkatan produktivitas peternakan, khususnya produk sapi potong bisa dilakukan melalui penerapan konsep integrasi sapi – sawit. Konsep ini telah diaplikasikan di provinsi Riau, tepatnya di Kabupaten Pelalawan.

Diprakarsai oleh institusi riset pemerintah, yakni Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), integrasi sapi – sawit ini diharapkan mampu mendorong peningkatan perekonomian bagi peternak sapi skala rakyat.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan mengatakan bahwa integrasi sapi – sawit mampu mendukung pengembangan dan penerapan teknologi budidaya ternak sapi potong yang digabungkan dengan pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

Seperti yang disampaikannya saat meresmikan pilot project sistem integrasi sapi – sawit bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan, di Desa Beringin, Kabupaten Pelalawan, Riau (11/10/2019).

“Pilot project ini akan menghasilkan pakan ternak berkualitas yang berasal dari produk samping perkebunan sawit,” ujar Soni dikutip dari Tribunnews.

Menurutnya, konsep ini bisa menjadi tolok ukur kemampuan pengintegrasian sapi -sawit dalam menekan impor daging.

“Kita ini masih perlu banyak sapi, daging kita kan 720 ribu ton tujuan kita, baru bisa terpenuhi lokal 400 sekian ribu ton. Berarti masih kurang, kekurangan itu kita masih penuhi dari impor kan, impor sapi juga, ada impor dagingnya,” ujar Soni, saat dihubungi Tribunnews.

Jika rekayasa teknologi pangan ini berhasil, maka kedepannya Indonesia tidak perlu melakukan impor untuk bisa memenuhi kebutuhan pasokan daging sapi.

“Nah kalau bisa kita memenuhi daging itu dari sapi kita sendiri, kan kita mengurangi impor,” jelas Soni.

Ia kemudian menyampaikan bahwa ide dalam penerapan integrasi sapi -sawit ini sudah direncanakan sejak lama, namun pihak yang diajak untuk bekerjasama dalam pengimplementasian program percontohan ini masih ‘minim peminat’ saat itu.

Hal itu karena para petani khawatir keberadaan sapi di lahan sawit mereka dapat merusak lahan dan berdampak pada menurunnya jumlah produksi sawit.

“Karena (petani sawit khawatir) itu bisa mengganggu kan, bisa merusak tanaman sawit, bisa merusak tanahnya. Jadi produksinya bisa berkurang sawitnya,” kata Soni.

Oleh karena itu, sebagai lembaga riset pemerintah, pihaknya mencoba menawarkan metode yang bisa menguntungkan bagi petani sawit dan peternak sapi dan tawaran itu mendapatkan sambutan positif.

Pilot project sistem integrasi sapi – sawit ini menggandeng Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan, dan diresmikan di Desa Beringin, Kabupaten Pelalawan.

“Nah ini yang kita pikirkan dengan metode bagaimana mengelola sapi di lahan sawit ya, ini kita coba dengan pilot project di sana dengan mekanismenya, jadi itu sudah berjalan dan ini yang kita resmikan,” papar Soni.

Dalam pilot project ini, Soni menyebut ada sekitar seratusan sapi yang dicoba dalam pengimplementasian tersebut.

“Sebetulnya pilot project itu kan nggak besar ya, paling pakainya cuma ratusan aja ya 100 sampai 150 sapi. Tapi percontohannya adalah kita manfaatkan sisa-sisa, ya bisa disebut limbah lah ya,” ujar Soni.

Pilot project ini diharapkan menghasilkan pakan ternak berkualitas yang berasal dari produk samping atau limbah dari perkebunan sawit.

Diharapkan pula, pemerintah bersama industri swasta dan kelompok peternak mampu bersinergi dalam mensinkronisasikan program integrasi sapi – sawit melalui perumusan kajian yang tepat.

Integrasi sapi – sawit ini diprediksi mampu memangkas biaya pakan ternak hingga mencapai 30 persen.

Angka biaya pakan itu bisa ditekan karena program ini menggunakan limbah sawit yang berasal dari bagian pelepah dan batang pohonnya.

Pengintegrasian sapi – sawit ini pun berfokus pada penggunaan produk samping atau limbah sawit sebagai pakan ternak.

Ia menjelaskan bahwa biasanya memang limbah sawit seperti pelepah, daun hingga batangnya hanya digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk.

“Nah itu pelepah-pelepah daun-daun sawit yang dipotong itu kan daunnya banyak ya. Itu kan (biasanya) jadi sampah yang nantinya kena hujan dan lain-lain kemudian jadi pupuk,” kata Soni.

Namun dalam pilot project sistem integrasi ini, pihaknya mencoba menerapkan teknologi yang akan memanfaatkan limbah tersebut sebagai pakan ternak sapi.

“Nah (daun yang jatuh) ini kita bisa buat pakan itu dari limbah-limbah yang tadi itu dari limbah pelepahnya, ada batang sawit yang sudah nggak terpakai itu bisa kita pakai,” jelas Soni.

Selain itu, teknologi rekayasa pangan ini juga turut memanfaatkan bungkil sebagai bahan lainnya dalam pakan ternak sapi.Sehingga tidak ada produk limbah sawit yang terbuang.

Perlu diketahui, bungkil sawit merupakan sisa ampas kelapa parut yang telah habis kadar airnya karena proses pemanasan.

“Kemudian juga ada bungkil-bungkil yang nggak terpakai itu kita bisa manfaatkan juga, nah itu kita buat pakannya,” papar Soni.

Reporter : GlobalPlanet Editor : M.Rohali 188