Berita :: GLOBALPLANET.news

Jembatan Ampera. (Foto: Rachmad Kutniawan)

07 November 2019 16:18:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Sejak tahun 2014 lalu Dinas Kebudayaan Kota Palembang telah mengajukan 463 item bersejarah item di Kota Palembang. Namun hingga saat ini, tak satupun cagar budaya di kota berusia 1336 ini.

Hal ini diungkapkan Kasi Registrasi Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Rizal, ketika dijumpai, Kamis (7/11/2019).

Sebagai kota tertua di Indonesia, Kota Palembang yang telah berusia 1336 tahun nyatanya belum memilki cagar budaya tetap. Baik berupa bangunan, kawasan, struktur, situs ataupun benda seperti kota-kota bersejarah lainnya di Indonesia

Rizal mengatakan bahwa adanya bangunan, kawasan, situs, struktur dan benda yang selama ini disebut sebagai cagar budaya oleh masyarakat statusnya baru diregistrasi secara nasional, belum berkekuatan hukum sebagai cagar budaya.

"Sejak 2014 sampai 2019 kami sudah meregistrasi 463 item bersejarah di Kota Palembang, baik itu berupa bangunan, kawasan, struktur, situs dan benda. Paling banyak yang diregistrasi itu berupa benda," kata Rizal.

Sebelum diusulkan menjadi cagar budaya, sebuah bangunan, situs, kawasan, struktur dan benda harus terlebih dulu diregistrasi secara nasional sebagai pendataan awal sekaligus memastikan eksistensinya.

Tidak adanya cagar budaya tetap di Kota Palembang yang memiliki sejarah panjang terasa miris, sebenarnya Kota Palembang pernah memiliki bangunan cagar budaya yakni Pasar Cinde, namun pada 2017 pasar tersebut dirobohkan dan diganti pusat perbelanjaan modern untuk kepentingan ekonomi.

"Selain Pasar Cinde, ada beberapa bangunan bersejarah di Kota Palembang kondisinya ada yang mengalami kerusakan seperti Rumah Kapitan dan ada yang dimodifikasi seperti Masjid Agung," tambahnya.

Menurutnya, salah satu faktor kesulitan untuk mengusulkan sebuah bangunan, kawasan atau benda menjadi cagar budaya yakni kurangnya pemeliharaan keaslian suatu bangunan, kawasan, situs atau benda bersejarah yang akan diusulkan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.

Selain itu, kurangnya jumlah Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang berkompeten selama beberapa tahun juga membuat penetapan cagar budaya menjadi lamban.

Pada tahun 2020 telah diusulkan bangunan bersejarah di Kota Palembang agar bisa disidangkan dan ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Wali kota Palembang.

"Alhamdulillah sekarang jumlah TACB sudah cukup, sehingga tahun depan bisa menyidangkan lalu merekomendasikan usulan cagar budaya untuk ditetapkan Wali Kota," tambahnya.

Jika sebuah cagar budaya sudah ditetapkan, kata dia, maka akan ada dana pemeliharaan khusus guna memastikan cagar budaya tersebut selalu terawat karena telah berkekuatan tetap.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 66