Berita :: GLOBALPLANET.news

Sejumlah siswa memakai masker saat musim asap. (Foto: Ist)

13 November 2019 11:22:52 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Sejak Agustus 2019 Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan sudah membagikan sebanyak 350.000 lembar masker untuk mencegah potensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dampak asap karhutla.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumsel, Ferry Yanuar ketika dihubungi mengatakan masker yang sudah dibagikan, jumlahnya mungkin akan bertambah sebab belum redanya intensitas asap terutama di Kota Palembang. 

"Masker paling banyak kami distribusikan ke Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) karena di sana intensitas asapnya cukup tinggi," ujar Ferry, Rabu (13/11/2019).

Seiring perpanjangan masa siaga darurat karhutla hingga 30 November 2019, pihaknya tetap bersiaga karena sejauh ini memang terlihat jumlah penderita ISPA di beberapa kabupaten kota meningkat. 

Ferry melanjutkan, dari data Dinkes Sumsel pada September 2019 mencatat sebanyak 55.248 orang terkena ISPA, jumlah tersebut naik dibandingkan Agustus 50.862 dan Juli 40.884 penderita. 

Namun tidak serta merta para penderita ISPA diakibatkan asap karhutla, kata dia, karena gejalanya hampir sama dengan ISPA yang disebabkan hujan, debu, asap kendaraan ataupun penyakit bawaan. 

"Karena jumlah penderita ISPA pada September 2019 sebanyak 55.248 saat musim asap hampir sama dengan jumlah pada April 2019 sebanyak 55.237 saat puncak musim hujan," tambahnya. 

Data Dinkes Sumsel mencatat penderita ISPA tertinggi ada di Kota Palembang, yakni sebanyak 11.863 orang pada Juli 2019, meningkat pada September mencapai 14.714 orang, lalu turun pada Oktober menjadi 13.139 orang. 

Sedangkan OKI, Muba, Banyuasin dan OI yang notabanenya menjadi wilayah sumber karhutla jumlah penderita ISPA rata-rata di bawah 10.000 orang.

ISPA akibat asap hanya bisa diindikasikan melalui data signifikansi kenaikan kunjungan ke fasilitas kesehatan di wilayah terjadinya karhutla seperti di OKI, Muba dan OI. 

"Kota Palembang tiap bulan memang angkanya lebih tinggi dari daerah lain karena jumlah penduduk dan fasilitas kesehatan lebih banyak, jadi lebih banyak yang periksa," tutupnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 214