Berita :: GLOBALPLANET.news

Pajar saat melaporkan kejadian dipolres Prabumulih. (Foto: Hardoko Susanto).

14 November 2019 16:19:36 WIB

PRABUMULIH, GLOBALPLANET - Kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi di Kota Prabumulih. Kasus pelanggaran UU Pokok Pers Tahun 1999 itu kali ini menimpa wartawan salah satu media online, Fajar Amsani (37), pada Selasa (12/11/2019) sekira pukul 22.00 Wib.

Peristiwa tersebut bermula ketika korban melakukan peliputan di kawasan pusat pameran pembangunan peringatan HUT Kota Prabumulih ke 18 tahun di Taman Kota Prabu Jaya, Kecamatan Prabumulih Timur Kota Prabumulih.

Informasi yang diterima  GLOBALPLANET, Kamis (14/11/2019), menurut keterangan korban, bahwa pameran pembangunan tersebut melibatkan beberapa pihak ketiga dalam pengadaan tenda yang diperuntukkan sebagai stand pameran tiap SKPD Pemerintah, BUMN, BUMD, Swasta dan Pedagang.

Pengadaan tenda tersebut diketahui telah dibayarkan kepada pihak ketiga yakni rekanan CV Montana melalui dinas terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Prabumulih sebagai leading sektor urusan pengadaan tenda tersebut.

"Informasi yang kita terima bahwa pengadaan tenda di kawasan Prabu Jaya memang di menangkan oleh CV Montana. Artinya, pengadaan tersebut telah dibayarkan oleh Pemerintah Kota Prabumulih melalui Disperindag berdasarkan kontrak yang telah disepakati" ujar korban.

Dikatakan, berdasarkan penelusuran yang ia lakukan bersama rekannya (RN) ditemukan fakta bahwa setiap pedagang yang menempati tenda di kawasan Prabu Jaya milik Montana diduga dimintai uang sewa sebesar Rp.5 sampai 6 juta.

"Fakta dilapangan ternyata pedagang yang menempati los atau tenda di kawasan Pameran dimintai uang sewa sebesar Rp. 5 sampai 6 Juta Rupiah. Dan ketika ini kami konfirmasikan kepada pihak pengawas lapangan (Ar) tidak terima dan langsung mengusir kami dengan nada tidak mengenakkan" papar korban.

Setelah itu lanjutnya, korban langsung beranjak dari tempat tersebut. Dan ternyata di tengah perjalanan tidak jauh dari ia melakukan wawancara, beberapa orang dari arah belakang ada yang mengejar.

"Tepat di depan Sekretariat PWI Prabumulih dua pria langsung menghempaskan kursi ke saya. Beruntung saat itu saya berbalik dan menepis kursi tersebut dengan tangan. Begitu mereka masih terus melakukan pemukulan sehingga beberapa bagian badan mengalami luka ringan" ujarnya.

Ditempat terpisah, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Mulwadi ketika di konfirmasi melalui Wakil Ketua PWI Bidang Pembelaan Wartawan Jun Manurung membenarkan peristiwa dugaan tindak pidana penganiayaan atau tindak kekerasan terhadap wartawan yang dialami oleh salah satu wartawan Kota Prabumulih.

Menurut Jun Manurung, pas kejadian dirinya langsung diberitahu oleh Korban dan kemudian menyarankan korban untuk melakukan visum dan mengadukan dugaan tindak pidana tersebut ke Polres Prabumulih untuk segera di Proses Hukum.

"Untuk hal-hal seperti ini segera mungkin kita buat laporan agar kedepan tidak terulang kejadian yang sama sebab menyangkut UU Pokok Pers Tahun 1999. Disana disebutkan Wartawan dilindungi oleh UU dan barang siapa menghalang-halangi tugas wartawan diancam dengan  dengan hukuman 2 tahun penjara dan dikenakan denda paling banyak Rp.500 juta" tegasnya.

"Ia benar, kemarin malam korban mengabari kita tentang kejadian yang dialami saat melakukan tugas jurnalis di kawasan Stand Pameran Pembangunan di Prabu Jaya. Mungkin pagi ini kita langsung ke Polres untuk membuat pengaduan" tegasnya.

Reporter : Hardoko Susanto Editor : M.Rohali 1222