Berita :: GLOBALPLANET.news

Suasana sidang lanjutan dugaan suap Bupati nonaktif Muara Enim Ahmad Yani di Pengadilan Tipikor di PN Palembang, Selasa (26/11/2019). (Foto: Alwi Alim)

26 November 2019 19:51:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Sidang lanjutan dugaan kasus suap Bupati Muara Enim terkait proyek jalan di Kabupaten Muara Enim kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri Klas A1 Palembang, Selasa (26/11/2019). Dalam sidang kedua ini, JPU pada KPK menyebutkan buku biru yang memuat aliran dana serta daftar pejabat dan anggota dewan yang kecipratan.

Jaksa KPK Roy Riadi mengatakan buku biru ini merupakan barang bukti catatan transaksi yang dikeluarkan oleh tersangka Robi sebagai suap kepada Bupati nonaktif Muara Enim, Ahmad Yani beserta pejabat lainnya.

Adapun, nama pejabat tersebut menggunakan nama samaran yakni ‘Omar’ untuk Ahmad Yani, ‘Om Yas’ untuk Aries HB, ‘Haji Onok’ atau ‘Jionok’ untuk Ilham Sudiono, dan ‘Alvin’ untuk Elfin.

"Aries HB merupakan Ketua DPRD Muara Enim, Ilham Sudiono adalah Ketua Pokja IV Dinas PUPR Muara Enim, serta Elfin merupakan Kabid Pembangunan Jalan sekaligus PPK Dinas PUPR Muara Enim," katanya.

Dalam rincian buku biru tersebut, ‘Omar’ yang  mendapat aliran dana Rp 3 miliar melalui ‘Alvin’, pada 2/5/2019 diberikan berbentuk mobil Lexus senilai yang sebelumnya Rp 1,125 miliar namun coret Rp 1,15 miliar. Kemudian pada bulan April tanpa tanggal jelas disalurkan uang Rp5 miliar melalui ‘Alvin’, serta Rp1 miliar pada 2/5/2019 masih melalui ‘Alvin.

Kemudian, pada tanggal 29/1/2019 terdapat juga catatan aliran dana untuk ‘KB pan Jionok sebesar Rp600 juta, pada 17/5/2019 ‘Haji Onok’ Rp150 juta, Rp500 juta tanpa tanggal yang jelas masih untuk ‘Haji Onok’, dan Haji Onok (pinjaman) Rp250 juta pada 12/8/2019.

Jaksa pun memintai keterangan kepada saksi Manajer PT Indo Paser Beton Edi Rahmadi. Namun, saksi mengaku tidak mengetahui persis aliran dana tersebut.

Edi mengaku seingatnya aliran dana tersebut ada yang digunakan untuk membeli motor besar atau harley (Davidson) dengan alasan untuk motor Patwal. Kemudian, aliran dana juga untuk membeli mobil di Lampung. "Ada sebagian aliran dana yang tidak saya ketahui pak, saya tidak ingat aliran dana tersebut," jawab Edi.

JPU pun meminta agar saksi tidak memberikan alasan lupa atas aliran dana tersebut. Karena di BAP telah dijelaskan dengan gamblang aliran dana dugaan suap ini.

Tak hanya JPU, Ketua Majelis Hakim Bonbongan Silaban mengingatkan agar saksi tidak memberikan alasan lupa secara terus menerus. Karena, kejadian ini baru yakni bulan Agustus lalu.

"Saya takut salah jawab pak," jawab Edi.

Sementara itu, Tersangka, Robi Okta Fahlevi membeberkan fee sebesar 15 persen ini diberikan karena memenangkan lelang 16 proyek jalan. Namun, dirinya merasa diperas, lantaran terus dimintai uang oleh beberapa orang lain yang masih berada di lingkaran suap tersebut. Diantaranya yakni Ketua Pokja IV Dinas PUPR Muara Enim Ilham Sudiono serta Ajudan Bupati Muara Enim Muhammad Riza Umari. "Mereka meminta uang sejak Januari hingga Agustus," singkatnya. 

Reporter : Alwi Alim Editor : Zul Mulkan 259