Berita :: GLOBALPLANET.news

02 Desember 2019 15:29:00 WIB

LAHAT, GLOBALPLANET - Rencana pembatasan pesta organ tunggal (OT) yang hanya dibolehkan pada siang hari, mendapatkan penolakan dari pelaku atau pemilik usaha organ tunggal. Mereka tergabung dalam Komunitas OT mengadu dalam rapat di Kantor DPRD Lahat, Senin (2/12/2019).

Di hadapan para wakil rakyat, Ketua komunitas OT Lahat, Agun mengatakan dampak dari akan diterbitkannya aturan tersebut akan banyak orang yang akan merugi dikarenakan kehilangan mata pencarian.

"Ada 127 pelaku usaha OT yang terdata. Pada zaman Bupati Lahat, Saifudin Aswari, awalnya juga ada larangan OT pada malam hari. Setelah muncul gejolak, timbullah surat edaran Bupati, OT boleh pada malam hari hingga pukul 22.00 WIB," ujarnya, Senin (2/12).

Agung mengungkapkan, pihaknya mendukung kalaupun harus ada Perda, asalkan masih boleh malam hari. "Jika satu OT ada 10 orang, berarti ada 1.270 orang yang menggantungkan hidup di OT, dan terancam merugi bahkan kehilangan pekerjaan," katanya. 

Menanggapi hal ini, anggota DPRD Lahat dari lintas Komisi menggelar rapat dengan menghadirkan pihak terkait seperto komunitas OT, pemuka agama, hingga penegak hukum di Lahat. Dalam rapat tersebut, pengusaha OT juga meminta pihaknya tidak dijadikan pelaku, terkait adanya narkoba, miras, dan biduan tempel. Apalagi hingga ada insiden pengunjung OT sampai meninggal dunia,  pihaknya tidak ingin dijadikan pelaku penyebab terjadinya hal tersebut. 

"Dalam Perda itu kalau bisa dimasukkan pasal-pasal pengecualian, seperti saat acara marhaba, acara parpol, dan lainnya," ucap Ketua Pengadilan Negeri Lahat, Yoga Dwi Nugroho SH. 

Ketua Badan Pembentukan Perda DPRD Lahat, Chozali Hanan mengatakan, masukan yang diterima tersebut akan menjadi pertimbangan dan kajian untuk disampaikan ke unsur pimpinan dan Bupati Lahat. Terkait didukung atau tidak dijadikan Perda, tergantung pandangan dari seluruh fraksi di DPRD Lahat. 

"Hasil rapat ini akan disampikan ke fraksi, nanti fraksi inilah yang akan menyampaikan hasilnya. Sebelum 2020, harus sudah ada payung hukum terkait OT," sampainya. 

Diketahui, Pemkab Lahat berencana melarang pesta OT di malam hari karena dinilai memicu narkoba dan kriminal lainnya. Hal ini didorong terjadinya keributan yang salah satunya mengakibatkan seorang biduan tempel meninggal dunia. 

Reporter : Ferry Andhika Editor : Zul Mulkan 89