Berita :: GLOBALPLANET.news

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian menunjukkan tanaman porang. (Foto: Rachmad Kurniawan)

14 Januari 2020 07:05:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Porang, tanaman yang tengah naik daun karena suksesnya petani-petani di tanah Jawa, membuat Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berminat mengembangkan Porang sebagai tanaman sela perkebunan karena nilainya yang potensial menambah penghasilan petani.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan wilayah Sumsel cocok untuk budidaya Porang dan rencana budidaya sudah ditanggapi positif oleh kalangan petani. 

"Kemarin sudah ditawarkan kepada para petani dan mereka mau, tapi mereka bilang masih susah modal, itu masalahnya. Harga bibitnya masih tergolong mahal, bisa mencapai Rp160 ribu perkilogram di mana satu kilogramnya berisi biji katak100 - 200 butir, kalau buka satu hektar lahan butuh 200 kilogram porang, berarti dengan modal di awal Rp40 juta untuk tahun pertama," ujar Rudi, Senin (13/1/2020).

Menurut dia Porang yang masuk jenis umbi-umbian memiliki banyak khasiat dan produk turunan dalam bidang pangan (tepung), kesehatan, teknologi hingga kosmetik. 

Permintaan Porang di pasar domestik maupun ekspor juga lumayan besar di mana Indonesia sendiri baru bisa memenuhi 10 - 20 persen permintaan pasar dunia, harga Porang segar di tingkat petani berkisar Rp4.000 - Rp6.000 perkilogram dengan asumsi berat umbi bisa 3-4 kilogram perbatang. Harganya bisa naik dua kali lipat jika sudah diolah dan kondisi siap ekspor, sementara satu hektar lahan bisa untuk 6.000 batang Porang.

Selain umbinya, hal paling menggiurkan dari Porang yakni juga menghasilkan biji-biji katak yang dapat ditanam kembali menjadi porang baru. Tiap batang Porang bisa menghasilkan 3 - 4 biji katak dalam waktu tujuh bulan sejak penanaman.

Sehingga jika petani menanam 40.000 Porang, maka tujuh bulan atau satu tahun kemudian dapat menanam 120.000 batang Porang yang baru. Namun waktu paling ideal adalah 2 tahun.

Meski demikian ia membuka kemungkinan bantuan bibit dari pemerintah agar budidaya Porang bisa lebih cepat diimplementasikan, salah satu daerah yang telah menjajal budidaya Porang yakni Kabupaten Ogan Ilir. 

"Untuk saat ini kami anjurkan petani-petani yang sudah mapan alias ada modal supaya coba budidaya Porang, untuk tahap pertama memang butuh Rp160 juta, tetapi dalam satu tahun sudah balik modal dan satu tahun lagi sudah untung dari hasil jual kataknya," jelas Rudi.

Peneliti pangan yang telah meneliti kandungan porang Ir Dr Any Yanuriati menambahkan, idealnya porang 2 tahun dipanen karena semakin besar dan berat umbinya bisa dijual mahal. 

Kandungan zat yang ada di dalam porang adalah glukomanan yang bagus untuk kesehatan dan kosmetik. "Dia (porang) ini komponen terbesar potensialnya adalah kandungan glukomanan-nya. Tepung yang kita gunakan khusus dari porang kandungan glukomanannya. Itu bagus untuk kesehatan imun tubuh kita, makanan, kosmetik, bisa dikembangkan untuk industri lainnya," ujar Any.

Kandungan glukomanan ini harus diisolasi mengingat pada tumbuhan tersebut juga mengandubg kasum oksalat yang dapat menyebabkan gatal ketika dalam keadaan basah. "Warna daging umbi bagian dalamnya berwarna putih kekuningan. Orang jawab biasa mengonsumsinya sebagai pengganti nasi," tutupnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Zul Mulkan 461