loader

Bersama Lawan Corona, Begini Cara Pemulihan Ekonomi

Foto

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Bagaimana melewati dan pemulihan ekonomi pasca Covid-19 nantinya? Berikut pandangan atau pemikiran Ketua Gapki Sumsel Alex Sugiarto, Ketua Apindo Sumsel Sumarjono Saragih, dan Ketua DPD AREBI Sumsel Endang W Wierono dalam diskusi online mencari solusi “Corona Datang Pengusaha Ditantang” yang digelar globalplanet.news bersama Apindo Sumsel dan Gapki Cabang Sumsel, Sabtu (18/4/2020).

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumsel Alex Sugiarto memiliki pandangan, pemulihan ekonomi dapat dilakukan dengan mengacu data terdahulu. Dulu di China ada epidemi SARS, data menunjukkan butuh waktu cukup panjang sampai satu tahun untuk pemulihan ekonomi dampak SARS. “Setelah satu tahun ekonomi baru normal. Padahal SARS tidak sebesar Covid-19. Minimal ekonomi dua tahun baru kembali normal usai Covid-19,” ujarnya,

Pada 2003, sambung Alex, kontribusi ekonomi China pada dunia hanya 4%. Saat ini 17-18 persen, jadi akan luar biasa memang dampak ekonomi China ini. “Ibarat China bersin dunia demam. Seperti itu bayangannya. Tapi bukan buat kita pesimis, harus semangat. Selama ini kita berhasil melewati krisis yang pernah ada,” katanya.

Kemudian bisnis merasakan dampak yang luar biasa. Walaupun sektor perkebunan, pertanian dan perikanan masih lumayan. Tapi tentunya industri tidak berjalan sendiri tanpa industri lain. Tentunya kita kembali bersama – sama bergandengan tangan. Untuk sektor usahanya yang masih normal terus berikan kontribusi bagi industri kemaslahatan sosial khususnya.

“Khususnya masyarakat menengah kebawah sangat luar biasa dampaknya. Mereka tidak punya saving yang cukup. Ini yang benar – benar harus kita pikirkan. Kebijakan pemerintah sudah baik namun butuh respon/aksi cepat untuk merealisasikannya karena masyarakat tidak bisa menunggu lama. Untuk melakukan pemulihan ini harus ada gandeng tangan dan melakukan aksi nyata,” katanya.

 

Selalu Ada Peluang

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumsel Sumarjono Saragih, menceritakan pengalamannya menghadapi empat krisis yakni 1998, 2008, 2012 dan 2020 dengan profesi yang berbeda. 2012 krisis Eropa Yunani, dan 2020 krisis ekonomi dan pandemi.

“Artinya krisis akan selalu datang, hanya kapan dia datang? Itu kata pakar dan sejarah mengatakan demikian,” sebutnya.

Untuk itu, perlu belajar dari krisis terdahulu untuk punya daya tahan menghadapi krisis berikutnya. Akan ada selalu peluang dalam setiap krisisi. Oleh karena itu, siapa yang beruntung dari krisis ini? Waktunya menjadi agen kemanusiaan, karena tidak hidup sendiri. “Bagikan keuntungan itu dengan berbagai cara. Berupa bantuan, ide gagasan bersama mitra bisnis. Siapa yang beruntung selamat dan semoga menjadi humanis juga,” harapnya.

 

Legowo dan Tetap Berpikir Kreatif

Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Sumsel Endang W Wierono menyebut, sebagai seorang pengusaha tidak lantas nangis tapi hadapi penuh legowo. Karena mau tidak mau ini keadaan yang harus dihadapi dan dilewati. Yang harus dipikirkan bagaimana tetap bertahan, dan bagaimana tetap memiliki ide kreatif yang bisa dijalankan.

“Untuk property perlu dukungan yang kuat dari perbankan dan OJK tentunya. Banyak sekali kredit di sektor ini, baik para developer maupun user. Mau tidak mau perbankan berikan keringanan nyata, tidak hanya keringanan DP. Bagimana tentang penambahan waktu kredit atau pengurangan suku bunga,” katanya.

Endang melanjutkan, memang diharapkan pandemi Corona berakhir Juni – Juli, namun tidak ada garansi. Karena itu, dari sektor property dan sektor lain benar – benar atur cash flow agar tetap survive dengan mengelola ide dan mengesekusinya. “Tetap semangat tetap berjuang, jangan lupa kita sama – sama bergandengan tangan apa yang bisa kita lakukan. Menggalang dana, mengajak yang lain dan hal – hal yang apa yang bisa dilakukan. Pengusaha di Sumsel sudah banyak yang sudah membantu pemerintah. Walaupun tidak besar, tapi satu masker sudah sangat berarti,” tutupnya.

Share

Ads