Berita :: GLOBALPLANET.news

Rapat Persiapan Pelaksanaan Posko Satugas Tugas Siaga Darurat Bencana Asap akibat Karhutla di Sumsel, di Kantor BPBD Sumsel, Kamis (18/6/2020). (Foto: Andika Pratama)

18 Juni 2020 16:17:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Semua pihak terkait diingatkan tetap waspada terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumsel. Walaupun kemarau tahun ini basah, namun pencegahan secara dini kunci utama mencegah Karhutla.

Hal ini mengemuka dalam rapat persiapan pelaksanaan Posko Satuan Tugas Siaga Darurat Bencana Asap akibat Karhutla di Sumsel, di Kantor BPBD Sumsel, Kamis (18/6/2020). Rapat dipimpin Danrem 044 Garuda Dempo diikuti semua unsur tarkait dalam Satgas. Mulai dari TNI, Polda Sumsel, Dinas Kehutanan dan Dinas Perkebunan, Dinkes, Biro Hukum, Angkasa Pura dan Kasat Pol PP. Lalu unsur swasta dan asosiasi seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumsel, APHI Sumsel hingga Forum Pondok Pesantren.

Koordinator BMKG Sumsel Nuga Putrantijo mengatakan, musim kemarau di Sumsel tahun 2020 diperkirakan merupakan musim kemarau basah, dimana potensi hujan masih tetap ada walau berada di puncak musim kemarau. "Walaupun begitu, kewaspadaan terhadap kebakaran lahan tidak boleh lengah. Pencegahan dini menjadi kunci utama untuk mencegah kebakaran," ujarnya.

Awal musim kemarau tahun 2020 ini diperkirakan terjadi pada dasarian pertama sampai dasarian ketiga bulan Juni dan akan berakhir sampai Oktober 2020. Puncaknya, musim kemarau di Sumsel akan terjadi pada Agustus-September.

Diungkapkan Nuga, musim kemarau tahun ini akan lebih basah dibandingkan tahun sebelumnya. Itu berarti, walau berada di masa puncak, masih ada potensi awan hujan sehingga kondisi gambut di Sumsel tidak benar-benar kering. Intensitas hujan di musim kemarau tahun ini berada di kisaran 100 milimeter-300 milimeter per bulan (kategori menengah). “Ketika gambut tidak begitu kering, potensi kebakaran lahan juga akan menurun,” ucapnya.

Dari segi hari tanpa hujan (HTH) diperkirakan tahun ini akan lebih pendek, dimana berkisar antara 1-5 hari. Artinya, maksimal dalam waktu lima hari pasti ada satu kali hujan. Hal ini terpantau dari 120 alat pengukur hujan yang tersebar di wilayah Sumsel. “Adapun tahun lalu, HTH di Sumsel bisa mencapai 120 hari,” sebutnya.

Selain itu, fenomena La Nina ataupun El Nino di tahun ini diperkirakan akan lebih lemah cenderung netral. Hal inilah yang membuat masih adanya awan hujah walaupun di puncak musim kemarau. Memang sambung Nuga, kondisi iklim akhir-akhir ini sulit ditebak. “Karena itu, pembaruan secara berkala akan terus dilakukan untuk mempercepat langkah antisipasi di lapangan,” pungkasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah mengingatkan semua pihak harus terus waspada terutama di sejumlah desa yang rawan terbakar di Sumsel. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, ada 298 desa yang tersebar di 84 kecamatan di 10 Kabupaten/Kota di Sumsel yang rawan karhutla. “Kawasan ini yang perlu mendapat perhatian,” katanya.

Iriansyah menerangkan, aparat desa bisa menggunakan dana desa yang penggunaannya sudah diatur dalam keputusan tiga menteri. “Tentu akan dikoordinasikan dengan pemerintah kabupaten/kota yang memiliki akses langsung ke desa tersebut,” kata dia.

Reporter : Andika Pratama Editor : Zul Mulkan 185