Berita :: GLOBALPLANET.news

Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan diapit Gubernur Sumsel Herman Deru dan Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri bersama instansi terkait diantaranya kejaksaan dan GAPKI Sumel dan APHI usai Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Penanggulangan Karhutlah di Kebun Raya Sriwijaya di Ogan Ilir, Selasa (30/6/2020).

01 Juli 2020 08:07:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi fokus perusahaan perkebunan kelapa sawit, terutama anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Strategi utama bagi GAPKI dalam menghadapi ancaman karhutla yakni konsep pencegahan, penanggulangan dan pemulihan Karhutla.

Hal ini disampaikan Ketua GAPKI Sumsel Alex Sugiarto usai menjadi peserta Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Penanggulangan Karhutlah Provinsi Sumsel di Lapangan Kebun Raya Sriwijaya Kabupaten Ogan Ilir, Selasa (30/6/2020).

Bertindak sebagai inspektur upacara Gubernur Sumsel Herman Deru dan Hadir langsung Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan dan Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri, para bupati dan asosiasi seperti GAPKI dan APHI. Adapun peserta upacara terdiri dari personel gabungan TNI-Polri, Damkar, Satpol PP Manggala Agni dan lainnya.

“GAPKI Sumsel sudah siap secara dini. Sejak Maret 2020 sudah dua kali mengirimkan surat himbauan dan terus mengingatkan anggota terkait antisipasi dan kesiapsiagaan memasuki musim kemarau serta pengendalian kebakaran lahan dan kebun (Dalkarlabun),” ujar Ketua GAPKI Sumsel Alex Sugiarto.

Seluruh anggota, sambungnya, selalu diingatkan antara lain guna memastikan kelengkapan dan kesiapan operasional sarana dan prasarana dan pengaktifan kembali organisasi dalkarlabun. Kemudian bagi perkebunan dengan lahan gambut agar memperhatikan tata air/canal blocking, kelengkapan dokumen seperti peta areal rawan kebakaran, daftar piket/patroli dll, sosialisasi terhadap masyarakat sekitar serta membentuk atau mengaktifkan kembali KTPA (Kelompok Tani Peduli Api, MPA (Masyarakat/Desa Peduli Api).

GAPKI Sumsel sudah pula mengagendakan TOT (Training of Trainer) dalkarlabun bagi anggota pada April lalu, namun sesuai arahan Disbunprov hal ini ditunda pelaksanaannya sehubungan pandemi covid-19. “Namun pelatihan tetap dilakukan secara internal perusahaan anggota, karena sudah banyak karyawan yang telah mengikuti TOT sebelumnya. Sudah 9 angkatan, dimana setiap angkatan sekitar 30 peserta,” sebutnya.

Selanjutnya, GAPKI juga telah menerbitkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Karhutla di Perkebunan Kelapa Sawit musim kemarau 2020. Anggota di seluruh Indonesia terus menjalin komunikasi serta koordinasi dengan pihak terkait seperti KLHK, BPBD, BMKG, Dinas – dinas, Instansi, Muspika, dan Akademisi serta asosiasi terkait.

“Bersama anggota, GAPKI berusaha mengoptimalkan seluruh sumber daya guna mendukung pemerintah mencegah Karhutla di tengah pandemi covid-19. Kami yakin dengan persiapan matang serta koordinasi yang baik antara pihak pemerintah, perusahaan dan masyarakat, dapat menjaga Indonesia khususnya Sumsel dari bencana karbunla,” tegas Alex Sugiarto.

“Walaupun BMKG menyampaikan tahun ini kemarau basah, dengan HTH (Hari Tanpa Hujan) tidak lebih dari 5 hari, namun anggota GAPKI Sumsel tetap waspada karena diperkirakan Agustus - September merupakan puncak kemarau di Sumsel,” tegasnya lagi.

Alex juga menyampaikan, GAPKI Sumsel sangat mendukung upaya pemerintah dalam upaya pengendalian karhutla termasuk merangkul anggota GAPKI. Namun hal ini belum cukup untuk mencegah kebakaran lahan dan kebun secara optimal, mengingat anggota GAPKI khususnya di Sumsel baru sekitar 30% dari jumlah pengusaha yang berada di provinsi ini.

“Kami berharap pemerintah dapat membantu untuk mendukung dan menghimbau para pengusaha kelapa sawit lainnya untuk bergabung dalam keanggotaan GAPKI Sumsel agar komunikasi dan koordinasi dapat semakin efektif,” katanya.

Reporter : globalplanet Editor : Zul Mulkan 213