Berita :: GLOBALPLANET.news

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Prof Dr Andy Mulyana.

02 Juli 2020 16:39:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Citra kelapa sawit selalu dikatakan negatif oleh sebagian orang, seakan tidak ada baiknya. Padahal tanaman ini memiliki peran penting terhadap ekonomi dan tidak memiliki peran dalam merusak lingkungan.

Untuk itu, penguatan citra positif sawit dan hukum yang jelas harus ditegakkan untuk membuat penilaian masyarakat dan kesejahteraan petani sawit membaik.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Prof Dr Andy Mulyana mengatakan, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk membuat citra sawit menjadi baik. "Diantaranya mengurangi deforestasi sawit, minimalisasi tudingan sawit ancam biodiversity, pengendalian air di kebun sawit, minimalisasi kebun sawit Emitter Carbon, dan mencegah karhutla. Itu tadi cara untuk memperbaiki citra kelapa sawit," ungkap Andy Mulyana dalam paparannya di Webinar "Grow with Sawit", Kamis (2/7/2020).

Webinar via Zoom, live IG dan YouTube yang diikuti 713 peserta yang terdiri dari 88 Instansi pemerintah dan swasta, sembilan dosen dan 617 mahasiswa dari 107 perguruan tinggi di Indonesia, Kamis (2/7/2020).

Mengurangi deforestasi sawit, Andy menerangkan, dilakukan dengan moratorium konversi kawasan hutan menjadi lahan perkebunan sawit baru. Lahan untuk perkebunan sawit diutamakan pada lahan tidur atau terlantar. 

Kemudian tingkatkan pencegahan, pengawasan ketat, dan sanksi tegas pemerintah terhadap perusahaan atau kelompok masyarakat yang mengelola perkebunan kelapa sawit di dalam atau sekitar kawasan hutan tapi ada indikasi masuk ke kawasan hutan.

Untuk meminimalisasi tudingan sawit ancam biodiversity dapat dilakukan dengan mengembangkan enclave lokasinya pengembangan biodiversity, menemukan cara untuk membujuk perusahaan (pengusaha) mengenai keuntungan menerapkan praktik ramah keragaman hayati. "Seperti mengurangi konflik sosial, mengurangi dampak negatif lingkungan dan meningkatkan akses pada pelanggan hijau. Penting jika perusahaan mengincar pasar Australia, Eropa dan AS," katanya.

Terakhir, ia melanjutkan, untuk mengendalikan kebutuhan air, jika di areal kelapa sawit betul terjadi penurunan ketersediaan air. Pastinya bukan karena kelapa sawit rakus air tapi lebih karena pengelolaan terkait tata air yang belum memadai bangun polder dan kanalisasi untuk irigasi dan drainase.

"Kelapa sawit termasuk tanaman yang mempunyai perakaran yang tergolong dangkal (akar serabut), sehingga tidak punya kemampuan menyimpan air sebaik pohon lain dan mudah mengalami cekaman kekeringan. Saat hujan datang air tidak tertahan tetapi lolos bergerak ke lapisan tanah di bawah zona perakaran yang jika lahan merupakan lahan datar dengan muka air tanah yang dangkal maka lebih mudah menyebabkan genangan dan banjir," pungkasnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Zul Mulkan 234