loader

Si Pakar, Inovasi Dishut Sumsel Antisipasi Karhutla

Foto

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Sebagai informasi, pada tahun 2015 dan 2019, Sumatera Selatan menjadi salah satu provinsi dengan kejadian karhutla tertinggi. Data Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan total luasan hutan dan lahan terbakar pada tahun 2015 mencapai 727.100 hektar dan pada tahun 2019 mencapai 427.398 hektar

Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dishut Sumsel Dr Syafrul Yunardy, mengatakan Si Pakar Hutan atau Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan merupakan inovasi Dishut Sumsel dengan dukungan Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Sumsel. "Informasi titik panas yang mengindikasikan karhutla dapat ditampilkan oleh aplikasi secara cepat real time," ujar Syafrul, Kamis (16/7/2020).

Menurut dia, Si Pakar Hutan membuat aspek pencegahan karhutla lebih fokus dan efektif, karena menampilkan titik panas sesuai titik koordinat lengkap dengan informasi lokasi spesifiknya apakah berada di lahan gambut, area perusahaan, semak belukar, tanaman perkebunan atau lahan masyarakat.

Melalui aplikasi ini maka upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan dapat diketahui lebih awal. Karena data dan informasi hotspot atau titik panas yang merupakan indikasi kemungkinan adanya karhutla dapat ditampilkan oleh aplikasi ini secara cepat atau kondisi terkini (Near Real Time).

Aplikasi itu juga menyediakan fitur informasi jarak terdekat titik panas ke posko pemadaman dan sumber air, sehingga regu pemadaman dapat memperkirakan perlatan yang perlu dibawa, terutama seberapa panjang selang yang dibutuhkan.

"Si Pakar Hutan dapat menampilkan fitur rute terdekat untuk mengoptimalkan pemadaman seperti yang ada dalam aplikasi ojek, maka tim regu dapat memutuskan penggunaan alat transportasi menuju lokasi, mulai dari mobil pemadam, kapal cepat atau bahkan pesawat bom air. Untuk melihatnya bisa diakses lewat laman https://monitoring.dishut.sumselprov.go.id/karhutla/ atau bisa melalui aplikasi telpon pintar Si Pakar Hutan," tuturnya.

Titik panas yang tidak segera dipadamkan dapat meluas dengan cepat dan menimbulkan kebakaran hutan dan lahan, kata dia, selain berpotensi mendatangkan bencana asap karhutla juga berdampak besar terhadap kerugian dari sisi ekonomi. "Nilai kerugian ekonomi secara total akibat kebakaran hutan dan lahan sebesar Rp269 juta untuk setiap satu hektar yang dibakar, sementara pihak yang paling dirugikan apabila terjadi karhutla yakni masyarakat (59 persen), perusahaan (27 persen) dan pemerintah (14 persen)," pungkasnya.

 

Share

Ads