Berita :: GLOBALPLANET.news

Ketua Gapki Cabang Sumsel Alex Sugiarto (tiga dari kanan) seusai menjadi pembicara dalam Seminar dan Lokakarya gelaran Pengurus Wilayah Nahdlatul ulama Sumsel. (Foto: Rachmad Kurniawan

17 September 2020 14:25:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Ratusan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan belum bergabung menjadi anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). Ketua Gapki Cabang Sumsel Alex Sugiarto mengungkapkan hingga saat ini baru 74 perusahaan yang bergabung untuk bersama – sama menghadapi tantangan dan tekanan industri sawit.

“Kita terus mengimbau dan mengajak untuk bersama – sama berjuang menghadapi banyaknya tantangan dan bahkan tudingan negatif,” ujar Ketua Gapki Sumsel Alex Sugiarto ditemui saat menjadi pembicara dalam seminar dan lokakarya dengan teman “Membangun Sinergi Para Fihak (Pemerintah Daerah, Pelaku Usaha, CSO, dan Masyarakat) untuk Kemajuan Ekonomi Umat di Era New Normal (Covid-19)” di Hotel Premier Santika Palembang, Selasa (15/9/2020).

Sumsel sendiri disebutkan memiliki sedikitnya 200 perusahaan perkebunan sawit, dan yang telah menjadi bagian dari Gapki baru 74 perusahaan. “Dengan masih banyaknya perusahaan yang belum bergabung, kami terus mengajak untuk segera bergabung. “Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia, sawitnya masih menghadapi banyak tantangan, selalu ada tantangan bahkan tekanan dunia internasional. Menghadapi berbagai tantangan dan bahkan lebih pada tundingan negatif ini perlu kebersamaan dan masukan,” katanya.

Diketahui tantangan yang saat ini sedang berjalan gugatannya di WTO yakni labeling “bebas kandungan kelapa sawit” pada produk makanan dan minuman serta kosmetik dan lainnya terkait isu kesehatan yang dihembuskan Uni Erofa. Padahal secara ilmiah tudingan negatif tersebut telah terbantahkan.

“Menghadapi banyak gempuran yang lebih pada persaingan bisnis dan minyak nabati, karena sawit lebih produktif, upaya yang dilakukan membangun membangun komunikasi dengan berbagai pihak serta meningkatkan konsumsi dalam negeri seperti dengan program biodiesel yang akhir tahun ini memasuki B40,” katanya.

Selain mandatory biodiesel, pertamina juga tengah mengembangkan D100 yang akan menggunakan seratus persen sawit yang nantinya konsumsi sawit dalam negeri lebih besar lagi.

Apalagi di masa pandemi saat ini, selain industri sawit tetap berjalan normal dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, produk turunan dari sawit ternyata sangat baik untuk sabun dan hand sanitizer. “Pengaruh tetap ada, tapi operasinal perkebunan dan pabrik berjalan normal. Tidak terjadi pemutusan hubungan kerja, tidak ada informasi klaster penularan,” katanya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Zul Mulkan 103