Berita :: GLOBALPLANET.news

Relation And Formality Staf PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field, Afrianto, saat menjelaskan kepada awak media terkait perhitungan yang ditentukan tim terpadu sebagai dasar pembayaran kompensasi kepada warga Desa Tanjung Menang. (Foto: Hardoko Susanto)

21 Desember 2017 08:56:00 WIB

PRABUMULIH, GLOBALPLANET.news - Pasca dilaporkan warga ke DPRD Kota Prabumulih pada Senin (18/12/2017) lalu, akhirnya pihak PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field, baru merealisasikan tuntutan ganti rugi sesuai dengan harapan terkait munculnya air asin dan keretakan rumah warga di Desa Tanjung Menang, Kecamatan Prabumulih Selatan, Kota Prabumulih, akibat salah satu aktivitas perusahaan Minyak dan Gas (Migas) tersebut.

Asmen Legal And Relation (LR) PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field, Tuti Dwi Patmayanti melalui Relation and Formality Staff, Afrianto mengatakan, jika semua keluhan warga telah didata oleh tim terpadu, dan dicatat dalam bentuk berita acara serta ditandatangani oleh warga yang bersangkutan secara sukarela.

"Pada saat pemeriksaan rumah oleh tim terpadu yang dibentuk, apapun yang diutarakan oleh warga seluruhnya kita tampung semua. Hasil tersebut, dibuat pernyataan dan ditandatangani pihak tim terpadu dan warga pemilik rumah," kata Afri, kepada GLOBALPLANET. news, Kamis (21/12/2017).

Dasar tersebut, kata Afri, akan dijadikan panduan untuk membayar kompensasi kepada warga. Dimana, konversi besaran kompensasi menggunakan nilai kompensasi yang telah ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

"Kewenangan penentuan harga satuan permeter kompensasi ada di Dinas PUPR, itulah yang kita pakai untuk pemberian kompensasi," jelasnya.

Dia merincikan, dari hasil perhitungan tim terpadu, besaran kompensasi yang akan diberikan kepada masyarakat bervariasi, mulai dari yang terkecil Rp58 ribu hingga terbesar Rp77 juta, dan hampir 70 persen warga telah menerima uang kompensasi tersebut. 

"Sebelum kompensasi dibayarkan, satu persatu warga dipanggil dan sudah dijelaskan mengenai hak mereka. Memang ada yang menerima dan juga menolak, karena warga merasa kompensasi yang kita berikan nilainya tidak sesuai," terangnya. 

Terkait layak atau tidaknya warga menempati desa mereka yang tercemar limbah, menurut dia, itu bukan ranah mereka (Pertamina). Karena membutuhkan kajian yang mendalam dari para ahli dibidangnya. 

"Tapi sebagai bentuk keseriusan kita dalam menuntaskan masalah ini, sejumlah sumur Migas injeksi yang ada di Desa Tanjung Menang sudah tidak dioperasikan lagi atau distop," pungkasnya.
 

Reporter : Hardoko Susanto Editor : Amizon 695