Berita :: GLOBALPLANET.news

Pegawai sata menunjukan data luas lahan persawahan di Lahat yang terus berkurang. (Foto: Ferry Andika)

03 November 2020 12:49:53 WIB

LAHAT, GLOBALPLANET.news - Dinas Pertanian Kabupaten Lahat mencatat, luas lahan persawahan terhitung dari 2017 hingga 2019 terus mengalami penurunan. Berbagai faktor menjadi penyebab berkurangnya luas lahan persawahan. Saat ini, luas lahan perswahan di Kabupaten Lahat seluas 12.646 Hektar tersebar di 24 Kecamatan.

Kepala Dinas Pertanian, Ir Otong Heriadi melalui Kabid Prasarana Dan Sarana Pertanian, Herman Suyanto, mengatakan, pada 2017 lalu, luas lahan persawahan irigasi dan tadah hujan mencapai 17 ribu hektar.

Luasan itu menyusut pada 2019 yang hanya seluas 12.646 hektar yang terbagi, sawah tadah hujan seluas 1.612 hektar dan sawah Irigasi 13.651 hektar.

"Data penurunan persawahan dari tahun 2017 seluas sekitar 17 ribu hektar dan pada 2019 menjadi 12.646 hektar itu sudah termasuk sawah lahan kering atau disebut tadah hujan," ujarnya. Selasa (3/11)

Herman menjelaskan,  bebedapa faktor penyebab luas persawahan berkurang,  mulai dari beralih fungsi lahan, abrasi sungai, banjir bandang dan berubahnya metode pengukuran dari manual ke digital, saat ini metode pengukuran menggunakam citra satelit oleh BPN.

Seperti lahan persawahan tadah hujan seluas sekitar 2.000 hektar di wilayah Kikim Area beralih fungsi ke lahan sawit. Kemudian, alih fungsi ke usaha lain, yakni perkebunan kopi dan pemukiman sekitar 2.000 hektar juga terjadi di sebagaian besar di Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Suka Merindu, Pajar Bulan, Pagar Gungung, dan Pulau Pinang.

"Jaman dulu dilapangan belum digital, dan PPL kebanyakan di lapangan masih sistem manual, seperti menayakan kubik dan bidang. Jadi ada kemungkinan selisih jaman dulu sama jaman sekarang yang sudah metode pengukuran menggunakam citra satelit oleh BPN. Selain itu faktor alih fungsi lahan, abrasi sungai, faktor bencana seperti banjir bandang," jelasnya seraya mengatakan pihaknya sudah melaksanakan pengukuran secara citra satelit bekerjasama dengan pihak ketiga baru di 12 Kecamatan.

Masih kata Herman, hasil survei verifikasi dan klarifikasi bersama ATR BPN dengan membandingkan peta big badan informasi geofarsial dan menggunakan citra satelit indonesia dan ketitik koordinat sawah yang diragukan tidak lagi menjadi sawah. Tahun 2020 Luas Baku Sawah LBS tinggal 12.646 hektar dengan pola IP 200 Intensitas Pertanaman/Panen 200 persen atau 2x setahun.

" Data itu sama karena dibuat oleh tim Kelompok Kerja LBS terdiri dari Dinas Pertanian, ATR BPN Bappeda, PUPR dan BPS," sampainya didampingi Kasi Lahan dan Irigasi, Muhaimin.

Reporter : Ferry Andika Editor : amarullah 84