Berita :: GLOBALPLANET.news

Ilustrasi. (Ist)

23 November 2020 19:18:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Isu negatif atau serangan terhadap industri kelapa sawit dalam negeri gencar dilakukan oleh eropa. Di tengah serangan melalui isu yang selalu berubah setiap tahun, Industri kelapa sawit dalam negeri terus berusaha melawan dan menyakinkan pasar global.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumtera Selatan, Sumarjono Saragih, bahwa Sumsel notabene-nya wilayah zero konflik, sehingga minim sekali terjadinya perselisihan. Pada sektor ekonomi dan industri perkebunan, kendati terus diserang isu negatif dalam perspektif global, isu sustainability begitu menguntungkan pengusaha.

"Belakangan ini isu sustainability lebih banyak disuarakan Eropa, justru itu menjadi keuntungan kita sebagai pengusaha kelapa sawit. Setiap tahun isu yang menerpa kelapa sawit selalu berubah, tapi APINDO dan GAPKI selalu bertahan melawan kampanye ini, " kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan GAPKI ini, ketika menjadi narasumber dal Webinar Zoom yang digelar Globalplanet.news, Senin (23/11/2030).

Keuntungan ini menurutnya karena Indonesia khususnya Sumsel karena selama Pandemik sektor pertanian adalah sektor yang paling tangguh.

Di acara yang sama, Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang Mohammad Syawaluddin menerangkan, bahwa isu ekonomi yang menyerang komoditi Provinsi Sumsel, salah satunya kelapa sawit yang diserang oleh isu global oleh negara Eropa.

“Banyak faktor kenapa isu tersebut yang selalu dimainkan Eropa, karena jika industri Kelapa Sawit menguasai pasar, maka mereka akan kesulitan mengatur negara berkembang yang bergantung dengan impor,” katanya pada

Meski aktifitas ekonomi domestik Indonesia ramai dan menyebabkan potensi impor juga tinggi. Hal tersebut tidak berpengaruh terhadap Sumsel.

"Menariknya, Ekonomi kita (Sumsel) tidak terlalu tergantung dengan import karena sudah memiliki modal kekuatan komoditi dan sosial ekonomi masyarakat yang ada, " ujarnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 363