Berita :: GLOBALPLANET.news

Gubernur Sumsel H Herman Deru sesaat sebelum di Suntik Vaksin. (Foto: Rachmad Kurniawan)

14 Januari 2021 19:36:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET. - Vaksinator Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru adalah dr Trisnawarman seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan sudah berprofesi sebagai dokter selama 25 tahun.

Bertindak sebagai vaksinator pertama yang menyuntikkan vaksin ke orang nomor satu di Sumsel, merupakan kesempatan spesial baginya yang baru pertama kali berhadapan dengan Gubernur secara langsung. 

Momen ini baginya meninggalkan kesan yang luar biasa, meski sering menyuntikkan vaksin kepada pasien. 

"Pastinya senang, Alhamdulillah berjalan lancar (vaksinasi Covid-19 Herman Deru). Pertamanya tadi dimulai dengan baca Bismillah," kata dr Trisnawarman, Kamis (14/1/2021). 

Ia mengaku, walau sempat gugup karena penerima vaksinasi Covid-19 yang pertama adalah orang nomor satu di Sumsel. Namun dengan keyakinan dan rasa percaya diri yang Ia tekankan, dirinya bersyukur penyuntikan Sinovac berjalan aman tanpa hambatan.

"Mudah-mudahan sukses tadi sebelum mulai (vaksinasi) kita minta bantuan lindungan dari Allah, semua aman. Saya juga syukur tidak menunjukkan rasa nervous (gugup)," ungkapnya. 

Kelancaran vaksinasi Covid-19 Herman Deru tak terlepas dari kerjasama tim dan bantuan Puskesmas Gandus Palembang sebagai lokasi penyelenggara kegiatan.

"Persiapan kami briefing dan simulasi juga sebelumnya. Saya sebagai supervisi dibantu dengan dua orang petugas yang lainnya membantu mengarahkan," terangnya.

Trisna menerangkan, sebelum Herman Deru lakukan Vaksinasi, pihaknya juga telah melalukan screening, dengan melihat tensi beliau dan mengecek kepastian Gubernur tidak memiliki penyakit pembawa atau penyerta alias Komorbiditas.

"Tidak cuma Pak Gubernur, semua penerima vaksinasi juga perlu (screening) biar tidak ada efek samping. Karena orang hipertensi, diabetes melitus, HB nya tinggi, ibu hamil, lansia dan seseorang dengan autoimun tidak boleh (divaksin)," tegasnya. 

Menurut dokter yang juga menjabat sebagai Wakil ketua III Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumsel, kunci utama agar saat vaksinasi tidak mengalami efek samping dan berjalan tanpa hambatan adalah penerima vaksinasi Covud-19 harus benar-benar dalam kondisi sehat walafiat.

Sebab pelaksanaan vaksinasi Covid-19 mesti melalui beberapa tahapan seperti verifikasi atau pendaftaran, screening, pelaksanaan penyuntikan vaksin oleh nakes hingga proses pendataan ulang penerima vaksinasi sekaligus penerbitan sertifikat imunisasi

"Yang penting jangan kurang tidur, makan makanan seimbang, karena jika tidak fit tubuhnya akan meningkatkan tekanan darah atau membuat gula meningkat, sehingga pada screening tidak lolos tahap lanjutan," jelasnya.

Dalam proses penyuntikkan, ada empat meja yang akan dihampiri penerima vaksin. Nantinya efek dari vaksin akan dipantau selama 14 hari

"Nanti setelah selesai (divaksin) akan dilihat bagaimana perkembangannya, dan 14 hari ke depan baru akan ada suntikan (vaksin) kedua. Selama waktu itu, efek samping paling sering, demam, batuk, pilek dan alergi diare penyuntikan," tutupnya. 

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Erik Oktasubadra 150