Berita :: GLOBALPLANET.news

Pengamat Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah Yenrizal Tarmizi

26 Juni 2021 06:42:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Persepsi yang berbeda tentang lahan akan menjadikan manusia memperlakukan hal yang berbeda pula ketika memanfaatkan lahan. Dan mempengaruhi seberapa besar potensi Karhutla.

Pengamat Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah Yenrizal Tarmizi mengatakan, Terjadinya karhutla, menurutnya karena persepsi masyarakat yang berubah menjadi eksploitasi alam. Serta manajemen karhutla yang baru muncul ketika kemarau akan terjadi. 

"Kecenderungan ini terus berulang terjadi, lebih memikirkan bagaimana memadamkan api atau mencegah api terjadi. Padahal kita ini harus bersibuk mengurus karhutla saat musim hujan," tegasnya, Jumat (25/6/2021). 

Sudut pandang yang satu ini harus dipaksa agar merubah mindset dan persepsi masyarakat, swasta dan Pemerintah. 

"Kalau kita masih berpikir kalau lahan tersebut adalah tempat yang bisa dieksploitasi, ini akan sulit. Makanya persepsi mengurus karhutla saat musim hujan ini harus dipaksa, " jelasnya. 

Dia menambahkan, Kepala Daerah dianggap sebagai motor utama dari penggerak unit-unit yang dimiliki untuk pencegahan karhutla saat musim hujan.

"Harusnya ada grand desain mana saja lahannya yang berpotensi setiap tahun ada titik hotspot. Sudah bukan masanya lagi masyarakat dilarang untuk membakar lahan. Kalau Pemerintah bisa memberikan akses ke masyarakat ditingkatkan, untuk menggunakan teknologi terapan, itu akan lebih baik, " tutupnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 186