Berita :: GLOBALPLANET.news

Ketua Tim Ahli TRG Daerah Provinsi Sumsel, Syafrul Yunardi bersama tim saat menghadiri diskusi pengembangan rencana restorasi ekosistem gambut sektor kelapa sawit di kantor GAPKI Provinsi Sumsel, Kamis (22/03/2018). (Foto: Karerek/GlobalPlanet.news)

22 Maret 2018 18:43:35 WIB 413

PALEMBANG, GLOBALPLANET.news - Dalam upaya pelestarian gambut di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), model Budidaya Sawit -Agroforest jadi salah satu opsi yang bisa dilakukan oleh pemilik lahan sawit di Provinsi Sumsel. Hal ini diungkapkan Ketua Tim Ahli Tim Restorasi Gambut (TRG) Provinsi Sumsel, Syafrul Yunardi usai mengahadiri diskusi pengembangan rencana restorasi ekosistem gambut sektor kelapa sawit di kantor Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Provinsi Sumsel, Kamis (22/03/2018).

Dijelaskan Syafrul, tujuan utama diskusi pengembangan rencana restorasi ekosistem gambut sektor kelapa sawit, untuk melihat opsi atau peluang bagaimana menyikapi kebijakan terkait dengan pengelolaan kawasan budidaya maupun kawasan lindung yang ada lahan gambut, khususnya bagi perusahaan sawit di Sumsel.

"Salah satu opsi yang dimiliki untuk melestarikan gambut yang berada di kawasan lindung dan budidaya dengan model budidaya Sawit - Agroforest," ungkapnya kepada GLOBALPLANET.news.

Berdasarkan informasi dari Peneliti ICRAF, model budidaya Sawit-Agroforest sudah pernah diuji coba di Afrika pada tanah mineral. Dengan demikian, tentu menjadi tantangan dan peluang untuk dilakukan di Lahan gambut yang berada di Provinsi Sumsel. Namun tetap perlu mempertimbangkan dampaknya secara sosial, ekonomi dan lingkungan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Konsorsium Penyusunan Rencana Restorasi Ekosistem Gambut Sumsel (ICRAF, WRI, Wetlands Indonesia).

"Selain dari sisi lingkungan, TRGD Sumsel juga mencoba melihat sisi kelayakan suatu investasi, baik secara finansial maupun secara ekonomi. Kita juga akan mengkaji apakah secara regulasi memungkinkan untuk dapat diterapkan model tersebut, baik pada lahan gambut dengan fungsi lindung maupun fungsi budidaya," ucapnya.

Dalam skema model budidaya sawit-agroforest sendiri, tambah Syafrul, lahan sawit yang ada pada gambut memungkinkan untuk dapat dikombinasikan dengan jenis tanaman lain, seperti kopi, aren dan nanas serta jenis tanaman lainnya yang cocok untuk lahan gambut.

Dalam diskusi tersebut, berkembang pemikiran dan saran untuk mencoba memungkinkan menerapkan budidaya Sawit- Agroforest pada kawasan lindung. “Tentu ini memerlukan kajian lebih lanjut terkait dengan apakah dimungkinkan secara regulasi dan feasible bagi investasi”, paparnya.

Terkait gambut yang berfungsi lindung, penentuannya didasarkan dari empat kriteria yakni, ketebalan gambut diatas tiga meter, terdapat jenis-jenis endemik atau local species yang memiliki nilai konservasi tinggi, terdapat flora dan fauna yang statusnya dilindungi dan kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung dari awal atau sebelumnya, misalnya sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Untuk gambut dengan fungsi budidaya maka dapat tetap dikelola untuk tujuan produksi berbagai jenis tanaman budidaya yang sesuai dengan kondisi lahannya.

Sementara itu, Ketua GAPKI Provinsi Sumsel, Harry Hartanto mendukung penuh salah satu opsi pelestarian gambut yang ditawarkan oleh TRG Daerah Provinsi Sumsel. Namun, menurutnya ada opsi lain yang bisa dilakukan seperti, pemerintah mensubsidi pupuk atau pengurangan pajak ataupun yang lainnya dengan tujuan untuk menutupi faktor kerugian, jika kawasan sawit yang terdapat gambut lindung tidak bisa dikelola lebih lanjut.

"Kita mendukung, namun harus ada regulasi yang jelas terkait model budidaya sawit-agroforest agar hasil dari tanaman lain itu memiliki pasar dan harga jual sehingga tidak terbuang sia-sia," paparnya.

Disisi lain, Harry juga berharap, model budidaya sawit-agroforest bisa dilakukan di lahan sawit yang terdapat gambut lindung dan budidaya. Namun, pihaknya berkeinginan pemerintah bisa melakukan restorasi gambut dan tidak merugikan pihak lain dalam hal ini masyarakat dan pengusaha sawit.

Reporter : Karerek Editor : M.Rohali