Berita :: GLOBALPLANET.news

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara didampingi Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Farman menunjukan barang bukti narkoba diduga sabu seberat 3 kilogram di Mapolda Sumsel, Senin (16/4/2018). (Foto: Adi Kurniawan)

16 April 2018 18:03:30 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET.news - Setelah berhasil mengamankan narkoba jenis sabu – sabu seberat 3,05 kg (kilogram) dan 4.950 butir ekstasi di Bandara International Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang oleh petugas Angkasa Pura II beberapa waktu lalu.

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel juga berhasil menangkap enam orang tersangka, masing-masing Ok, Tr, Mh, Ah, Cs, dan Fd di Surabaya pada 10 April 2018. Keenamnya diduga bandar narkoba jaringan Indonesia.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menjelaskan, usai penemuan narkoba tersebut, pihaknya melakukan penyelidikan dan melakukan identifikasi no sations wajah para terduga pelaku.

“Saat ditangkap, sabu yang ditemukan oleh petugas disimpan salah satu pelaku dengan dililitkan di perut dengan menggunakan stagen,” ujarnya, saat press release di Mapolda Sumsel,Senin (16/4/2018).

Menurut Kapolda, modus yang digunakan para pelaku merupakan trik lama, bahkan sudah biasa digunakan oleh para kurir narkoba untuk meloloskan pemeriksaan saat di berada bandara.

“Jaringan yang kami tangkap ini, jaringan Palembang, Jakarta, Surabaya dengan tujuan pengiriman barang ke Banjarmasin. Untuk dari mana asal barangnya masih didalami. Besar kemungkinan barang ini berasal dari Medan atau Pekanbaru,” kata mantan Kapolda Riau ini.

Untuk mengelabui penciuman anjing pelacak, kata Kapolda, para pelaku sengaja mengemas sabu dan ekstasi bersamam kopi sachetan dalam satu bungkus. Tapi upaya para pelaku tidak berhasil hingga akhirnya kedok pelaku terbongkar.

“Sabu sengaja ditempel dalam korset lalu ditutup dengan pakaian. Tidak hanya itu untuk mengelabui anjing pelacak, sabu peketan itu diberi serbuk kopi. Emang anjing pelacak dikira goblok apa oleh pelaku ini,” seloroh Kapolda.

Dilanjutkan mantan Lulusan Akademi Kepolisian 1985, hasil tes laboratorium forensik (labfor) menunjukan berwarna kebiru - biruan pekat. “Bagus sekali ini kualitasnya menunjukan ini,” ujarnya.

“Tersangka akan kita jerat dengan Pasal 112 ayat (2) dan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman pidana mati, seumur hidup dan minimal 20 tahun,” tuntasnya.

Sementara, salah satu tersangka Ok mengaku, barang haram dikirim atas perintah Leto (DPO). Dalam mengantarkan barang tersebut, dirinya mendapatkan upah sebesar Rp10 juta. “Barang (sabu, red) itu rencananya mau dikirim ke Jakarta,” kata warga Surabaya, Provinsi Jawa Timur ini.

Reporter : Adi Kurniawan Editor : Agus Rizal 414