Berita :: GLOBALPLANET.news

Ilustrasi. (Foto: Ist)

05 Mei 2018 11:18:32 WIB

JAKARTA, GLOBALPLANET.news - Lahan gambut menyimpan stok karbon yang harus dilestarikan. Lahan gambut terdiri dari sekitar 7 persen dari luas dunia di 381 juta hektar. Sekitar 44 persen lahan gambut terletak di Rusia dan Eropa. Amerika memiliki 40 persen dan sisanya berada di negara lain (Joosten, 2009).

Secara alami, gambut menghasilkan gas rumah kaca, terutama CO2, CH4, dan N2O dari proses penguraian bahan organik dan kehidupan mikroorganisme. Emisi gas rumah kaca dari gambut sangat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti bahan induk dari lahan gambut, tutupan lahan, vegetasi, manajemen drainase dan kapasitas manajemen (Oleszczuk, dkk., 2008, Melling et al., 2005, 2007, 2010) , dan juga tergantung pada metodologi pengukuran emisi, baik pendekatan fluks atau pendekatan stok (Khoon, et al, 2005).

Meningkatnya kebutuhan lahan di pertanian global menyebabkan gambut untuk digunakan juga. Sekitar 78 persen lahan gambut dunia digunakan untuk pertanian, dimana 88 persennya terletak di luar daerah tropis, dan 12 persen di daerah tropis (Strack, 2008). Di Indonesia lahan gambut yang dapat digunakan untuk pertanian (dengan persyaratan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian no. 14 / permentan / PL.110 / 2/2009) adalah sekitar 6 juta hektar (BB Litbang SLDP, 2008).

Sudah banyak penelitian tentang emisi dari lahan gambut tropis di Indonesia dan Malaysia. Penelitian termasuk yang dilakukan oleh Murayama dan Bakar (1996), Hadi et al., (2001), Melling et al., 2005, 2007, Germer dan Souaerborn, 2008, Sabiham et al., 2012, dan Sabiham, 2013. The hasil empiris telah menunjukkan fakta-fakta berikut: (1) emisi gas rumah kaca bervariasi sebagai akibat dari variasi dalam vegetasi dan pengelolaan air di lahan gambut; (2) dalam kondisi alam gambut (hutan gambut tropis, hutan gambut sekunder) menghasilkan emisi GRK; dan, (3) lahan gambut yang ditanami kelapa sawit memancarkan lebih sedikit gas rumah kaca.

Hasil empiris menunjukkan bahwa gas rumah kaca yang dipancarkan oleh perkebunan kelapa sawit di lahan gambut lebih rendah dari emisi lahan gambut yang ditinggalkannya sendiri, dan hutan gambut primer dan sekunder. Bukti ini juga mengoreksi pandangan yang umumnya dipegang oleh LSM yang mengklaim bahwa perkebunan kelapa sawit di lahan gambut meningkatkan emisi CO2.

Jika kita menggabungkan bukti empiris dengan peningkatan stok karbon yang diukur dari berdiri biomassa (Chan, 2002), kelapa sawit di gambut tidak hanya mengurangi emisi CO2 tetapi juga meningkatkan stok karbon di ekosistem gambut. Stok karbon tetap di gambut juga meningkat seiring dengan usia tanaman (Sabiham, 2013).

Dari lahan gambut di Indonesia, sekitar 80 persen dikategorikan sebagai lahan gambut terdegradasi (Joosten, 2008). Karena itu, penggunaan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit (dengan teknologi berkelanjutan) merupakan alternatif penting untuk pemulihan dan rehabilitasi lahan gambut dan setidaknya mengurangi emisi dari lahan gambut.

Sumber: indonesiakita.or.id

Reporter : - Editor : M.Rohali 174