Berita :: GLOBALPLANET.news

Ilustrasi: GLOBALPLANET.news

16 Mei 2018 19:08:41 WIB 125

PRABUMULIH, GLOBALPLANET.news - Sebulan ke depan, warga muslim akan melaksanakan puasa di bulan suci ramadan. Suasana Pilkada serentak khususnya di Kota Nanas ini akan bakal terus memanas, pasalnya hanya tersisa 45 hari sebelum hari-H pencoblosan, 27 Juni mendatang. Terkait soal pilkada ini acap kali momen ramadan menjadi ajang kampanye terselubung sehingga terindikasi pelanggaran.

Menurut Ketua Aliansi Wartawan Muda Indonesia (AWMI), Abi Samran, SH selama ramadan suasana pilkada serentak ini sangat rawan pelanggaran. Karenanya, Abi meminta kepada pengawas pemilu untuk jeli dan meningkatkan pengawasan.

Khususnya, di masjid-masjid yang biasanya dijadikan objek kampanye atau sosialisasi oleh peserta Pilkada serentak untuk mendulang suara atau meraih dukungan dari masyarakat untuk memenangkannya.

"Sudah aturannya, kampanye di masjid oleh peserta pilkada serentak dilarang. Makanya, kita tekankan agar Pengawas Pemilu (Panwaslu) untuk jeli dalam pengawasannya," jelasnya, Rabu (16//5/2018).

Abi menekankan, apalagi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sudah mewarning bagi paslon yang memanfaatkan masjid sebagai tempat kampanye akan dikenakan sanksi tegas.

"Apalagi, sudah jelas aturannya dalam PKPU No 4/2014. Tidak boleh atau dilarang kampanye di masjid," ujarnya.

Selain itu, ia mewanti agar penyelenggara pemilu, baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panwaslu untuk terus menjaga netralitasnya dan tidak berpihak. Kalau itu tidak dipatuhi AWMI sebagai pemantau Pilwako Prabumulih mengancam akan mengugat hasil pilkada serentak.

"Pemantau sesuai aturan punya kewenangan untuk mengugat, kalau memang ada terindikasi kecurangan dan ketidaknetralan penyelenggaraan pilkada," bebernya.

Kata dia, Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) juga tidak boleh berpihak dan sudah jelas aturannya jika melanggar. "Kalau berpihak artinya, ASN dan PNS siap dipidana," tukasnya.

Dia juga mengingatkan, agar masyarakat tidak mengunggah berita hoax atau bohong. Sehingga, membuat keruh suasana Pilkada Serentak yang telah panas.

"Jangan terpancing isu yang tidak benar tentang pilkada serentak yang diunggah melalui media sosial (medsos)," tandasnya.

Reporter : Hardoko Susanto Editor : Juliandi