Berita :: GLOBALPLANET.news

Ali, pemilik toko Bimo Jaya Gemstone, memamerkan koleksi Batu Bacan miliknya, Jum'at (20/7/2018). (Foto: Rachmat Kurniawan)

20 Juli 2018 12:39:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET.news - Sempat booming dan fenomenal beberapa tahun silam serta memiliki daya jual yang tinggi. Namun, satu tahun belakangan trend batu akik mulai memudar, dan permintaan dari konsumen ikut merosot. Meski demikian, hal ini tak menyurutkan pedagang batu akik di Kota Palembang, seperti Ali (44) dan Ala (41).

Dua saudara kandung ini, tetap mempertahankan keeksisan batu akik di kalangan pecintanya, dengan menjalankan usaha yang mereka rintis sejak tahun 2014 lalu di pusat penjualan batu akik, Pasar Cinde Palembang.

Menurut Ali, alasan ia tetap berdagang batu akik, karena memang batu akik ini memiliki konsumennya sendiri terutama kolektor.

"Kolektor dari Jambi, dan Lampung sering beli batu akik kesukaanya. Apalagi sekarang musim Asian Games, turis pasti banyak yang datang, jadi ini kesempatan untuk mengenalkan batu akik kepada turis yang berdatangan, dan beberapa sudah ada yang kesini," ungkap Ali, saat dijumpai di tokonya Bimo Jaya Gemstone, Jum'at (20/7/2018).

Selain turis, kata bapak empat anak ini, ada juga pencinta baku akik dari kalangan anggota Polri, TNI, PNS, serta warga biasa yang menjadi pelanggannya.

Menurut pria yang kerap dipanggil Bang Ali ini, salah satu batu yang paling sulit untuk dijadikan atau dibuat, adalah batu bacan karena kalau salah sedikit kapurnya bisa terangkat sehingga kurang menarik dan menjatuhkan nilai jualnya.

"Baturaja, Biru langit, dan Lavender, batu-batu ini masih banyak peminatnya karena harganya terjangkau. Batu-batu jenis ini, saya dapat dari Bengkulu dan wilayah Baturaja," katanya.

Selain batu jenis tersebut, para kolektor juga banyak memburu batu mulia yang didatangkan dari luar negeri, seperti batu mulia jenis Zamrud, Zambia, Kolombia, Garnet, dan Ruby hingga batu Bacan.

"Saya beli ini di luar negeri secara online, karena keunikan dan keindahan ukiran alaminya, kolektor yang jadi pelanggan saya juga suka batu-batu tersebut selain batu bacan," ujarnya.

Ditempat yang sama, Ala menambahkan, batu yang paling mahal adalah batu bacan yang memiliki nilai jual Rp 200 ribu hingga Rp 6 juta, karena tingkat kesulitan membuatnya.

"Sedangkan batu-batu biasa dijual mulai Rp 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis batu. Untuk batu mulia sendiri sama seperti batu bacan," terang dia.

Selain dari Bengkulu dan Jambi, sambung Ala, ada juga batu lokal lainnya yang berasal dari Aceh, yaitu jenis solar dan beberapa jenis lainnya, yang biasa dipakai oleh kaum hawa. 

Sementara, Erman (33), salah satu pembeli yang dijumpai saat memilih batu akik di toko milik Ali mengaku, jika dirinya senang dengan corak-corak dan ukiran batu akik yang sedap dipandang.

"Punya nilai seninya tersendiri walaupun hanya batu, terutama batu Teratai dan Ruby saya suka. Tidak penting harganya murah atau mahal, saya lebih mengagumi keunikan ukiran, corak, dan warna cerahnya," ungkapnya.
 

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Amizon 691