loader

Jeritan Petani Sawit Imbas Larangan Ekspor: Mau Dikemanakan TBS Kami

Foto

SUMSEL, GLOBALPLANET - Petani sawit di Sumatera Selatan (Sumsel) dirudung kekhawatiran. Menjelang pergantian tahun ajaran baru dan kenaikan sejumlah kebutuhan bahan pokok, harga sawit anjlok dan penjualan tidak lancar imbas kebijakan larangan ekspor CPO dan minyak goreng. 

Sebagai informasi, harga kebutuhan pokok terpantau di sejumlah pasar tradisional di Palembang melambung. Seperti di Pasar KM 12 Palembang, harga daging ayam bertahan di harga Rp40.000 per kilogram. Telur masih berada di atas Rp23.000 per kg, dan ikan seperti Lele yang sebelumnya Rp20.000 sudah Rp24.000 per kilogram. 

Beberapa petani yang dihubungi via sambungan telepon dari Palembang, mengaku hanya bisa pasrah. Karena tidak dapat berbuat apapun kecuali berharap dan melakukan efisiensi dalam pemeliharaan kebun. Karena sejak sebelum kebijakan larangan ekspor, harga pupuk juga sudah melambung. 

"Usai Lebaran ada beberapa hari bisa menjual sawit, terakhir kalau tidak salah haru Rabu (11/5). Hari itu harga Rp20.000 per kilogram. Setelah itu, tutup PKS karena banyak hal termasuk libur panjang akhir pekan ini," kata Andi, salah seorang petani sawit di Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sabtu (14/5/2022).

Yang menjadi kerisauan petani, berdasarkan informasi yang mereka terima, mereka bisa menjual sawit pada hari Minggu (15/5/2022). Namun harga TBS mereka hanya akan dihargai Rp1.000 per kilogram. "Tidak bisa menyalahkan pabrik (PKS/Pabrik Kelapa Sawit) juga, karena mereka punya kebun dan sawit plasma, kebun perusahaan sedang banyak buah, buah numpuk," katanya. 

Share