loader

Ponari "Dukun" Cilik Segera Menikah

Foto

GLOBALPLANET - Dia melamar gadis pujaannya, Aminatus Zuroh (22), warga Dusun Sumber, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Jombang. Keduanya menjalin kasih sejak 2019.

Aminatus mengaku berpacaran dengan Ponari sejak Juli 2019. Saat itu keduanya sama-sama bekerja di perusahaan makanan ringan (snack), CV Surya Kencana Food (SKF), Jalan Brigjen Kretarto, Jombang. Meski Ponari sudah pindah kerja di sebuah perusahaan pemasaran obat-obat herbal. Namun hubungan asmara sejoli ini tetap nyambung.

Mas Ari (Ponari) sudah pindah kerja ke perusahaan obat herbal. Saya tetap di perusahaan jajanan ringan. Saya suka, orangnya pendiam," kata Aminatus Minggu (19/1/2020).

Foto-foto Ponari melamar gadis pujaannya itu viral di media sosial. Dalam foto itu Ponari dan calon istrinya terlihat menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis mereka. Lamaran tersebut berlangsung di kediaman Aminatuz, di Dusun Sumber, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Jombang.

Mukharomah, ibunda Ponari, mengaku setuju saja anaknya menikah dengan gadis yang dicintainya, Aminatuz Zuroh. Karena gadis tersebut juga sudah menjadi pilihan sang anak. Mukaromah hanya bisa mendoakan agar keduanya hidup bahagia. Pernikahan keduanya direncanakan Februari mendatang.

Saya sebagai orang tua hanya bisa memberikan doa restu. Semoga anak saya bahagia bersama gadia pilihannya. Apalagi gadis pilihannya perilakunya juga baik, kata Mukharomah.

Ponari merupakan warga Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Saat masih duduk di kelas tiga SDN Balongsari, dia menemukan batu warna coklat mirip kepala belut. Batu bertuah itu ditemukan saat ada geledek menyambar, tak jauh dari dirinya berdiri. Itu terjadi awal 2009.

Batu yang ditemukan Ponari itulah yang kemudian dianggap keramat dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Caranya, batu dicelupkan ke air oleh tangan Ponari, kemudian air tersebut diusapkan ke bagian badan yang sakit.

Kabar tersebut cepat menyebar, dan ribuan warga setiap hari berdatangan dari penjuru Indonesia, ke rumah Ponari untuk mencari kesembuhan. Dari situlah Ponari bergelimang materi. Rumahnya yang berdinding bambu, berubah berdinding batu. Rumahnya sangat megah untuk ukuran desa.

Seiring berjalannya waktu, pasien Ponari berangsur menyusut. Meskipun sampai sekarang masih ada saja yang datang ke rumah Ponari untuk mencari kesembuhan dengan batu yang dianggap bertuah tersebut. (beritajatim)

Share

Ads