Berita :: GLOBALPLANET.news

Herman Deru saat berbincang dengan salah seorang pedagang pasar Tebing Tinggi, dalam rangkaian kegiatan kampanye dialogis di Kabupaten Empat Lawang, Senin (16/4/2018). (Foto: Rody Hartono)

16 April 2018 21:20:36 WIB 51

EMPAT LAWANG, GLOBALPLANET.news - Masyarakat di Kabupaten Empat Lawang, khususnya di dua kecamatan yakni, Kecamatam Tebing Tinggi dan Kecamatan Saling, sangat berharap pada kenaikan harga jual getah karet. Jika harga jual getah karet tingkat petani mengalami kenaikan, otomatis taraf hidup masyarakat juga akan meningkat.

Hal tersebut dikatakan salah seorang tokoh masyarakat di Desa Kotagading, Kecamatan Tebing Tinggi, Marsidi. Dia mengatakan, hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Empat Lawang, bergantung hidup dari pertanian.

Di desanya, sebut mantan kades tersebut, masyarakat hanya mengandalkan penghasilan dari hasil penyadapan karet, karenanya naiknya harga karet akan meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.

“Kami hanya bergantung pada karet dan sawah tadah hujan. Adanya kenaikan harga karet, otimatis akan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Karena itu kami berharap kedepan harga jual getah karet dapat meningkat,” ungkapnya.

Sementara, Calon Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru mengatakan, mendirikan pabrik pembuatan ban, di Sumatera Selatan merupakan salah satu cara meningkatkan harga jual getah karet di tingkat petani, dalam provinsi ini.

Adanya pabrik ban di Sumatera Selatan, setidaknya telah memutus lima mata rantai pemasaran getah karet di provinsi Sumsel, yang tentunya dapat meningkatkan harga jual getah karet di tingkat petani dalam provinsi ini.

“Kalau pabrik ban ini kita dirikan di Sumsel, akan memutus lima mata rantai. Bahwa karet itu diproses menjadi ban, harus dikirim di luar negeri dengan delapan mata rantai, kalau kita di Sumsel ini ada pabrik ban, ada lima mata rantai pemasaran yang terputus,” ungkap Deru, kepada masyarakat Desa Kotagading dalam kampanye dialogis, Senin (16/4/2018).

Menurut Deru, jika lima mata rantai pemasaran getah karet asal petani Sumsel diputus, jika satu rantai saja mereka ambil untung Rp1 ribu per kilogram, artinya sudah ada Rp5 ribu perkilogram yang akan dikembalikan ke petani karet.

“Kalau sebelum diputus mata rantai harganya Rp5 ribu perkilogram, setelah diputus, harga karet di tingkat petani, bisa Rp10 ribu perkilogram, itu yang kami programkan,” katanya.

Reporter : Rody Hartono Editor : Agus Rizal