Berita :: GLOBALPLANET.news

Terlihat sejumlah truk terpakir dan diservis di salah titik pantauan di kawasan Merapi Timur, Kabupaten Lahat sekitar pukul 17.00WIB, Kamis (8/11/2018). (foto: globalplanet).

08 November 2018 17:28:00 WIB

MUARAENIM, GLOBALPLANET - Hari pertama dilarangnya truk batubara di jalan umum, para sopir terlihat mengisi waktu dengan nongkrong, bersih – bersih truk serta ada juga ngebengkel.

Mereka terlihat memarkirkan truk – truk mereka di halaman rumah makan, bengkel dan tempat terbuka lainnya di samping bahu jalan. Bak truk kebanyakan diangkat dan terlihat mereka melakukan pembersihan atau servis truk.

Ada juga yang mencuci bak truk untuk mengisi waktu sembari menunggu apakah selanjutnya mereka masih akan mengangkut batubara atau tidak lagi. “Semantara belum ada perintah, jadi ya cuci mobil atau dandan (servis) mobil,” kata salah satu sopir yang mengaku bernama Usman, ditemui di salah satu titik di kawasan Merapi Timur, Kamis (8/11/2018) sekitar pukul 17.20WIB.

Sementara pantauan lalu lintas terlihat lengang dan lancar. Tidak ada kemacetan atau penumpukan kendaraan pada ruas jalan mulai dari Merapi Barat hingga Terminal di Muaraenim. Kendaraan melaju dengan kecepatan cukup tinggi, dan truk terlihat terpakir dalam keadaan kosong di halaman rumah, halaman rumah makan atau cucian mobil dan lahan kosong lainnya.

Seperti diketahui, Kamis 8 November 2018 merupakan hari pertama penerapan kebijakan Gubernur Sumsel Herman Deru yang mencabut pergub tentang angkutan batubara di jalan umum. Kebijakan yang disambut antusias warga, karena truk batubara selama ini dituding pemicu macet parah di Jalinsum ruas Lahat-Muaraenim dan Prabumulih itu.

“Kita senang kalau memang benar dilarang, karena sempat tidak yakin, karena kan yang bermain tambang juga bukan orang biasa. Tapi kalo memang benar tidak ada lagi truk batubara di jalan umum, sangat baik dan masyarakat pasti senang,” kata Romli, salah satu sopir ekspedisi yang ditemui di salah satu rumah makan di Muaraenim.

Reporter : globalplanet Editor : Zul Mulkan 88