Berita :: GLOBALPLANET.news

Suasana perlintasan kereta api di Ujan Mas Baru, Kamis (8/11/2018) malam. Tidak ada antrean truk dan tidak ada yang menerobos di sebelah kanan walaupun palang pintu ditutup lama. Kerena hanya ada tiga mobil yang antre hingga kereta batubara melintas. (foto: globalplanet).

09 November 2018 08:58:50 WIB

SUMSEL, GLOBALPLANET - Hujan deras menemani tim globalplanet yang memantau langsung ruas jalan yang biasanya dilintasi truk batubara Kamis (8/11/2018) malam, hari pertama penerapan larangan truk batubara di jalan umum.

Tim memulai perjalanan dari Perbatasan Lahat dengan Muaraenim sekitar pukul 19.15WIB. Melintasi jalan yang mulai dipenuhi limpahan air hujan mengharuskan ekstra hati – hati. Kekhawatiran memuncak membayangkan kemacetan parah dan panjang menjelang perlintasan kereta api di Jalinsum ruas Muaraenim-Prabumulih.

Didorong penasaran apakah benar kebijakan Gubernur Sumsel ini dipatuhi? Tim globalplanet hanya pasrah dan berharap mendapatkan pantauan yang menarik untuk sebuah laporan.

Ketika keluar dari Kota Muaraenim dan melintasi Bakso Urat yang tidak jauh dari RM Sederhana, tim mulai menyiapkan sejumlah peralatan termasuk kamera dan jas hujan, jika menjelang perlintasan kereta api terjadi kemacetan, harus turun untuk wawancara dengan sopir dan warga serta mengambil foto pendukung.

Tidak disangka, setelah berjalan cukup lama dan sejumlah topik pembicaraan dilahab, mulai dari hoaks penculikan anak hingga pemilu 2019, tidak ditemukan satu pun truk yang mengangkut emas hitam. Hanya ada satu travel dan satu Pajero Sport yang menerobos hujan.

Sekitar tiga kilometer menjelang perlintasan kereta api Ujan Mas Baru, tim bersiap sekaligus berencana membeli kacang rebus dari pengasong. Mobil terus menerobos limpahan air hujan di aspal dan perlintasan semakin dekat, tak satupun truk terlihat. Dan kebetulan, kereta pengangkut batubara akan melintas dan palang pintu diturunkan. Tentu tidak terdengar suara pemberitahuan kereta akan lewat, karena hujan yang deras.

Tak ada pengasong dan tidak ada antrean kendaraan yang selama ini baik truk batubara maupun minibus yang biasanya menerobos di bahu jalan sebelah kanan, sebagai bentuk protes atau juga memang terburu-buru.

Mobil tim globalplanet terus maju dan palang pintu semakin dekat sementara kereta api belum lewat. Dari arah Muaraenin menuju Prabumulih, hingga kereta babaranjang melintas dan palang pintu diangkat, hanya ada tiga mobil yang antre, satu di depan dan ada satu lagi di belakang.

Tentu ini kontras dengan yang terjadi selama ini. Sebagai bahan membayangkan, salah satu anggota tim globalplanet pernah dalam kondisi genting karena orangtuanya diangkut ke Charitas dan dia harus kembali ke Palembang malam hari dari sebuah tugas jurnalistik di Kota Pagaralam dan Lahat.

Saat itu, ketika keluar dari Muaraenim sepanjang jalan dirinya harus mengumpat dan menerobos melalui bahu jalan sebelah kanan, sembari membayangkan ruangan IGD Charitas. Yang pasti pukul 16.00WIB bertolak dari Lahat, tiba di Charitas sekitar pukul 02.00WIB dini hari, saat itu.

Kembali ke Kamis (8/11/2018) malam, jalan lengang hanya hujan yang semakin deras. Setiap perlintasan kereta api tidak terjadi antrean. Walaupun hujan deras, aspal tergenang, tim globalplanet tiba di Talang Keramat Palembang sekitar pukul 23.31WIB. Padahal, di Kota Prabumulih sempat ngopi cantik, di Indralaya isi BBM dan setor toilet.

Tidak bermaksud memuji dan apalagi menyalahkan siapapun, yang pasti Jalinsum dari Merapi Timur, Kabupaten Lahan hingga Kota Palembang pada Kamis (8/11/2018) sangat lancar walaupun air hujan sedang tumpah.

Reporter : globalplanet Editor : Zul Mulkan 133