Berita :: GLOBALPLANET.news

Ilustrasi. (Foto: Ist)

12 Februari 2019 08:30:00 WIB

JAKARTA, GLOBALPLANET - Kelangkaan sumber energi fosil sebagai sumber bahan bakar bukan lagi menjadi isu baru untuk diperbincangkan. Selain sumber energinya tidak dapat diperbaharui, penggunaan bahan bakar fosil dalam keseharian ternyata memberi dampak yang buruk bagi lingkungan. Untuk itulah penggunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan sangat dianjurkan.

Dalam mengurangi dampak yang buruk bagi lingkungan tersebut diperlukan gerakan global untuk mengganti energi fosil dengan biofuel. Penggunaan energi biofuel generasi pertama (first generation biofuel) yakni dari produksi pertanian/perkebunan dinilai tidak berkelanjutan karena akan menciptakan persaingan penggunaan hasil pertanian untuk pangan dan energi (trade-off fuel-food).

Oleh karena itu kebijakan energi Masyarakat Uni Eropa (European Union Renewable Energy Directives, RED) maupun di Amerika Serikat (US Renewable Fuels Standard, RFS) merekomendasikan penggunaan energi biofuel generasi kedua (second generation biofuel) seperti biomas sebagai energi paling berkelanjutan dunia (Naik, et al. 2010).

Kebun sawit Indonesia memberikan peran dan kontribusinya dalam kebijakan energi masa depan dunia tersebut. Selain menghasilkan energi generasi pertama/first generation biofuel (biodiesel, FAME), kebun sawit Indonesia juga menghasilkan biomas yang cukup besar dan bahkan lebih besar dari volume biomas gabungan yang dihasilkan kedelai, repeseed dan bunga matahari. Sehingga biomas dari sawit berpotensi sebagai penghasil biofuel generasi kedua (second generation biofuel).

Selain itu, ketersediaan POME dari limbah yang dihasilkan dari sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai media kultivasi alga penghasil biofuel yang disebut sebagai sumber biofuel generasi ketiga (third generation biofuel). Kandungan minyak dalam biomassa kering alga dapat mencapai 80 persen dari beratnya yang menyebabkan yield minyak alga sangat besar dibandingkan sumber biodiesel lainnya.

Perkebunan kelapa sawit merupakan “lumbung” penghasil biofuel yaitu biofuel berbahan baku minyak sawit sebagai biofuel generasi pertama (first generation biofuel), biomassa sawit sebagai sumber biofuel generasi kedua (second generation biofuel), dan pemanfaatan POME untuk media kultivasi alga sebagai sumber biofuel generasi ketiga (third generation biofuel).

Selain itu, jika potensi tersebut dapat dimanfaatkan maka dapat mengurangi minyak fosil yang kita impor selama ini dan membangun kemandirian energi secara berkelanjutan kerena dapat diperbarui, rendah emisi, berbasis pada sumberdaya domestik, tidak diimpor sehingga tidak menciptakan ketergantungan pada negara lain.

Biomas merupakan sumber energi baru terbaharui (new renewable energy) atau disebut juga biofuel generasi kedua (second generation biofuel).

Selain minyak sawit (CPO+PKO), kebun sawit juga menghasilkan biomas sekitar 16 ton bahan kering per hektar per tahun berupa tandan kosong (empty fruit bunch), cangkang dan serat buah (oil palm fibre and shell), batang kelapa sawit (oil palm trunk) dan pelepah kelapa sawit (oil palm fronds). Sehingga dengan 14 juta hektar kebun sawit indonesia dapat menghasilkan biomas sekitar 218 juta ton biomas bahan kering setiap tahun.

Dari biomas tersebut dapat diolah menjadi bioethanol (pengganti premium/gasoline). Jika diasumsikan setiap ton bahan kering biomas dapat menghasilkan 150 liter etanol, sehingga dapat menghasilkan 33 juta kilo liter etanol/biopremium setiap tahun atau hampir 50 persen dari kebutuhan premium di Indonesia setiap tahun.

Selain itu, limbah yang dihasilkan dari sawit yakni POME dapat dimanfaatkan sebagai media kultivasi alga penghasil biofuel yang disebut sebagai biofuel generasi ketiga (third generation biofuel). Ketersediaan POME yang melimpah di Indonesia merupakan pilihan yang murah untuk dikombinasikan dalam produksi alga penghasil biodiesel demi pemenuhan tingkat kebutuhan biodiesel sesuai target mandatory biodiesel yang ditetapkan pemerintah. Dengan demikian, kebun kelapa sawit merupakan lumbung energi bagi Indonesia.

 

Sumber: PASPI

Reporter : GlobalPlanet Editor : M.Rohali 213